“When work is a pleasure, life is a joy, when work is a duty, life is slavery.” – Rio, Scj
…
| Red-Joss.com | Apa yang ada di pikiran kita saat mendengarkan kata ‘kerja’? Ada yang membayangkan capek dan lelah, tapi ada juga yang langsung tersenyum dan bahagia.
Apa yang kita rasakan terhadap pekerjaan itu sangat mempengaruhi kebahagiaan dan sukacita. Bagaimana tidak, lebih dari 50% waktu hidup kita, dihabiskan untuk bekerja. Kalau bekerja hanya sekadar cari makan, maka kita jadi banyak pikiran, tekanan, bahkan bisa jadi beban. Tapi, bila pekerjaan itu dilakukan dengan sepenuh hati, walaupun harus menguras energi, kita akan merasa puas dan bahagia.
Apa pun pekerjaannya, ingat: lakukan, kerjakan, dan dimaknai, tidak hanya asal kerja. Karena bekerja itu tidak hanya sekadar untuk mencari nafkah, tapi bekerja itu bagian dari ibadah. Kita melakukan tidak hanya dengan kesungguhan, tapi juga dengan keikhlasan. Sehingga jangan dilihat sebagai beban dan kewajiban, tapi dijalani sebagai panggilan dan pelayanan.
Saat lelah dan berkeluh kesah, ingat kembali alasan utama kita melakukan pekerjaan itu. Untuk kepuasan duniawi atau melayani. Bila kita melakukannya untuk mengisi waktu luang, itulah pekerjaan. Bila kita melakukan dengan mengorbankan waktu lainnya berarti itu pelayanan.
Bila kita kecewa, karena tidak ada yang berterima kasih, itulah pekerjaan. Bila kita terus berkarya, walaupun tidak pernah dikenal siapa pun itulah pelayanan.
Bila kita berhenti, karena ada yang mengkritik, itu pekerjaan. Bila kita terus bekerja, meski harus berlapang dada, itulah pelayanan.
Bila kita merasa telah banyak berkorban dan layak mendapatkan upah, itulah pekerjaan. Bila kita belum merasa cukup memberi dan melakukan lebih, itulah pelayanan.
Bila kita sulit menikmati apa yang dikerjakan, itu pekerjaan. Bila kita senantiasa melakukan itu dengan senyuman dan ketulusan, itulah pelayanan.
Bila kita berpikir untuk kaya raya dan harta berlimpah, itu pekerjaan. Bila kita berpikir untuk setia, itu pelayanan.
Bila kita melakukan untuk diri sendiri, itulah pekerjaan. Bila kita melakukannya untuk Tuhan, itulah pelayanan.
Tempat kita bekerja mungkin tidak sempurna, tapi semua itu bergantung bagaimana kita menyikapinya.
Semoga apa pun pekerjaan kita tidak sekadar memberi hidup yang mapan, tapi juga sukacita, kedamaian, dan pelayanan.
Deo gratias.
…
Edo/Rio, Scj

