Berjanji untuk jadi pribadi yang rendah hati itu kadang berhenti saat setelah janji diucapkan. Hal itu tandanya untuk jadi pribadi yang rendah hati itu tidak mudah.
Niat untuk hidup sederhana juga terhenti pada niat dan kata-kata yang diucapkan. Setelah itu gaya hidup tidak bisa dikontrol lagi. Lingkungan yang saling adu gengsi membuat kita tidak bisa hidup sederhana. Lebih baik malu, daripada tidak bisa bergaya. Ujung-ujungnya anggarannya minus. Jalan pintasnya adalah berhutang. Hal ini jauh dari niat hidup sederhana, tapi hidup ngawur.
Satu lagi yang sering diulang-ulang, yakni untuk hidup dalam harmoni, damai, lemah-lembut dengan siapa saja. Tapi apa yang terjadi? Yang terjadi sebaliknya, niat itu tidak seindah dengan yang dilakukan setiap hari. Isinya emosi dan marah-marah.
Jika kita mempunyai niat dan janji, pilihlah yang sederhana dan bisa dilakukan. Niat dan janji itu tidak perlu muluk-muluk (tinggi). Cukup dipilih yang bisa dilakukan hari ini, dan dihari-hari selanjutnya. Misalnya berjanji untuk berkata-kata yang baik. Atau hari ini, kita tidak mau menjelekkan orang lain.
Contoh yang indah ada dalam Injil, ketika Tuhan Yesus menyampaikan Doa Syukur untuk mereka yang kecil, miskin, lemah-lembut dan rendah hati. Berarti pada pribadi-pribadi yang hidup seperti itu. Sederhana, dan tidak sulit.
Senantiasa bersyukur untuk mencukupkan diri, dan bahagia.
Rm. Petrus Santoso SCJ

