“Satu detak jantung dari kekekalan. Ajarlah kami menghitung hari-hari kami dengan bijak.”
Allah Bapa yang kekal, tempat tinggal kami turun-temurun, sementara kami hanyalah debu yang kembali jadi debu. Seperti rumput yang tumbuh subur di pagi hari lalu layu di senja hari. Begitu cepatnya hari-hari kami berlalu, dan segala jerih payah kami sering berakhir sia-sia, jika tidak tertambat pada-Mu.
Melalui sabda-Mu, Engkau mengingatkan kami, bahwa segala jerih lelah, hikmat, harta, dan keberhasilan duniawi itu tidak akan memberi kepuasan sejati, jika tidak dihayati dalam terang-Mu. Apa gunanya semua itu, jika jiwa kami tidak dibentuk serupa dengan gambaran-Mu?
Tuhan, betapa sering kami tergoda untuk menimbun harta bagi diri sendiri, seperti orang kaya dalam Injil, yang sibuk membangun lumbung-lumbung lebih besar, merancang masa depan yang nyaman, dan memuji diri sendiri atas hasil kerja kerasnya. Namun Engkau menyebutnya bodoh, karena ia melupakan Sang Pemberi napas kehidupan. Dalam sekejap, Engkau dapat memanggilnya pulang, dan segalanya akan lenyap tidak bersisa.
Ampunilah kami, ya Bapa, atas saat-saat kami lebih berharap pada hal-hal yang fana: kepemilikan, pencapaian, status, atau rasa aman yang semu. Kupaslah dari hati kami yang palsu, dan ajarilah kami untuk hidup bukan demi dunia yang sementara ini, tapi bagi Kristus yang telah membangkitkan kami jadi ciptaan baru.
Arahkan hati kami kepada hal-hal yang di atas: kasih, kerendahan hati, belas kasih, dan kebenaran. Matikan dalam diri kami segala yang duniawi, agar hanya Kristus yang hidup di dalam kami.
Bentuklah hati yang bijaksana dalam diri kami, ya Tuhan, hati yang peka mendengar suara lembut Roh Kudus. Ajarlah kami menghitung hari-hari kami, agar memperoleh hikmat sejati dan hidup bukan sebagai orang bodoh, melainkan sebagai anak-anak terang. Kenyangkan kami setiap pagi dengan kasih setia-Mu, supaya kami boleh bersorak-sorai dan bersukacita sepanjang hidup kami dengan pujian syukur kepada-Mu.
Teguhkan karya tangan kami, bukan demi nama kami, melainkan demi kemuliaan-Mu. Biarlah hidup kami mencerminkan yang sungguh bernilai di mata-Mu: belas kasih, keadilan, dan kesetiaan. Kiranya Kristus jadi segalanya bagi kami: makna, harta, dan tujuan hidup kami.
Yesus, yang kaya akan belas kasih, aku percaya kepada-Mu. Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

