Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
| Red-Joss.com | “Sesungguhnya, sekeping wajah mengekspresikan siapakah Anda.”
Dalam legenda Hindu dikisahkan, bahwa pada mulanya, Sang Brahma menciptakan “semua manusia dengan sifat kerendahan hati.”
Maka, tidak ada perbedaan antara manusia biasa dengan para Dewa.
Namun, sayang, lambat laun, sang manusia itu mulai “menyalagunakan” sifat kerendahan hati itu untuk kepentingan diri. Maka, Sang Brahma pun “mencabut kembali sifat kerendahan hati” itu dari dalam diri sang manusia.
Maka, berhimpunlah para Dewa untuk mencari solusi, di mana โtempatโ untuk menyembunyikan sifat rendah hati itu?
Dalam musyawarah para Dewa, berbagai argumen pun dilontarkan. Antara lain, para Dewa ingin, agar sifat kerendahan hati itu disembunyikan di dasar bumi. Tetapi, tidak terdapat kesepakatan, karena diduga, suatu saat, sang manusia pun akan menggali perut bumi untuk berbagai keperluan.
Ada Dewa yang berpendapat, kita sembunyikan saja di dasar laut. Namun, saran itu pun dimentahkan, dengan argumen, bahwa suatu saat kelak sang manusia pun akan menjelajahi dasar laut.
Dalam kesimpangsiuran itu, Sang Brahma pun berkata, “Mari, kita letakkan saja, sifat kebijaksanaan kerendahan hati itu, di dalam hati sanubari sang manusia.”
(Dari berbagai sumber)
Suatu hari, diadakan lomba memahat wajah, yang mampu mengekspresikan sekeping wajah pribadi yang rendah hati.
Ada pemahat yang mengekspresikan wajah ‘penuh senyumโ. Pemahat lain, memahat sekeping wajah dengan ekspresi ‘pribadi yang seriusโ. Sedangkan pemahat lain, memahat seraut wajah ‘tenang anggun berwibawaโ.
Sedang pemahat paling buntut, memahat sesosok pribadi berwajah ‘senduโ.
Kini, tiba saat mendebarkan. Dewan juri pun serius menatap tiap-tiap kepingan wajah yang dipajang berderetan.
Ketua Dewan juri pun angkat bicara, “Apa itu kerendahan hati? Si wajah seriuskan, si wajah sendu dukakah, si wajah tenang kalemkah, atau si wajah seram kejam?”
Dengan nada berkhotbah, sang Ketua juri pun menarasikan bahwa, “Pribadi yang rendah hati ialah sang dia yang dengan jujur, berani, serta tulus mempersepsikan dirinya.”
Seseorang yang dengan berani serta jujur menilai, mengakui, dan menerima diri apa adanya!
Kerendahan hati itu ternyata, saat kita berbuat baik tanpa banyak bicara. Selalu mau bersyukur atas apa pun. Dia rela menutup rapat aib sesamanya. Dia pun sangat rela berkorban tanpa mau disiarkan. Teguh bertahan dalam derita, namun penuh berharap. Berani dan tegas mau mengakui kesalahannya. Mudah dan tulus memaafkan kesalahan sesama.
Saya pun kini percaya, dalam kerendahan hati saya, Andalah orangnya!
Kediri, 20 April 2023
…
Foto ilustrasi: Istimewa

