Setiap kali berdoa, kita selalu membuka dan menutup doa itu dengan ‘Tanda Salib’. Dalam nama Bapa dan Putra, dan Roh Kudus. Begitu juga saat kita dibaptis, Romo atau Diakon berkata, “Aku membaptis engkau, dalam nama Bapa dan Putra, dan Roh Kudus.”
Kita menyebut Allah kita sebagai Allah Bapa, Allah Putra, dan Allah Roh Kudus. Bagi kita, sebutan semacam itu sudah jelas maksudnya; karena telinga kita sudah tidak asing lagi mendengarnya; dan mulut kita juga sudah sering kali mengucapkannya. Namun, di luar sana, banyak sekali orang merasa heran mendengarnya. Tidak sedikit dari mereka kemudian bertanya, “Kalau begitu, apakah Allah-nya orang Katolik ada tiga?”
Pertanyaan mereka berakar pada logika dan perhitungan yang sederhana. Merela bilang “1+1+1 = 3, kalau begitu orang Katolik mengimani tiga Allah”.
Memang kita manusia sering kali mencoba memahami realitas tentang Allah dengan menggunakan logika dan perhitungan sederhana. Padahal AIIah jelas tidak bisa disederhanakan ke dalam logika cara berpikir dan perhitungan mana pun. Berbicara tentang Allah, tidak akan pernah selesai hanya dengan penjumlahan maupun perkalian. Bahkan, jika kita mengatakan bahwa Allah itu Esa, juga pertanyaan tentang-Nya tidak dengan sendirinya selesai.
Allah tetaplah sosok misterius yang mengundang banyak pertanyaan dari umat-Nya. Hal itu baik. Jika Allah bisa dimengerti dan dipahami seluruhnya, maka jelaslah Dia bukan Allah lagi. Sebab itu, St. Agustinus berkata: “Kalau engkau memahami-Nya, la bukan lagi Allah.” Tidak ada yang mustahil bagi-Nya sebab la Maha Kuasa. Memang, kita sendiri tidak melihat-Nya secara kasat mata, tapi kita tetap harus percaya kepada-Nya.
Tuhan Yesus berkata: “Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya” (Yoh. 20:29). Hanya hati yang terbukalah yang mampu membawa kita pada sikap percaya, meskipun kita tidak melihat.
“Ya Allah, semoga kehadiran-Mu dalam hidup kami jadi terang bagi dunia, dan kami dapat menyatakan kasih-Mu kepada sesama dengan tutus. Amin.”
Ziarah Batin

