| Red-Joss.com | Jika memang diri ini sedang tidak bahagia, jangan tampilkan wajah bahagia. Karena justru pada saat itu kita akan terasa sakit, ketika melihat orang lain yang sungguh sedang mengalami kebahagiaan.
Cara menutupi yang terjadi pada diri ini, justru mendidik kita jadi seorang penipu, pembohong, penyangkal, dan pengkhianat.
Jika dilakukan pada orang lain, hal itu sangat menyakitkan. Dilakukan pada diri sendiri itu tidak hanya sangat menyakitkan, tapi juga mengiris-iris hati dan jiwa ini. Lalu, bagaimana kita pertanggung-jawabkan hidup ini?
Belajarlah pada Bunda Maria. Rasakan kehadirannya di saat sulit seperti 2000 tahun yang lalu, di mana Bunda Maria berada di bawah kayu salib Puteranya.
Mari kita lihat kisah cinta Bunda Maria:
- Saat mendapat Kabar Gembira, bahwa dia akan mengandung dan melahirkan Yesus. Dia gelisah, dia bertanya, tapi dia menerima dan percaya. “Fiat Voluntas Tua. Ecce Ancilla.”
- Saat dia mempersembahkan bayi Yesus di Bait Allah, dia mendengarkan ungkapan Simeon, di mana sebilah pedang akan menembus jiwanya. Dia kaget, tapi dia simpan semua perkara itu dalam hatinya dan terus merenungkannya.
- Saat dia mengikuti perjalanan Yesus menuju ke Bukit Golgota. Dia sedih melihat penderitaan Yesus, Puteranya. Tapi dia setia dan terus mendampingi-Nya.
- Saat dia berada di bawah kayu salib, dia terus merenungkan yang terjadi semua itu, hingga dia mendengarkan suara, “Ibu, ini anakmu.” Kontemplasi kita mengatakan, jawaban sang Bunda, “Engkau, tetap anakku, di saat bahagia, juga di saat menderita. Engkau, tetap anakku.”
- Saat Dia diturunkan dari salib. Dia dipangku dan dipeluknya. ‘Pieta’. Dalam hening Bunda Maria menunjukkan cintanya. Dalam kontemplasi, kesedihan dan kasih itu menyatu dalam keindahan ‘Pieta’. Saat kita melihatnya, yang kita lihat adalah kasih yang sempurna.
Jika kita mengekspresikan secara jujur itu tidak selalu membuat orang lain memandang sebelah mata. Justru, kisah kejujuran itu, baik yang bahagia atau tidak bahagia, akan menginspirasi dan bermakna.
Mari kita tampilkan kisah kejujuran sikap hati dan memaknainya, karena Tuhan terus bekerja dan berkarya lewat kita, sehingga jadi indah pada waktunya.
Sunggguh, siapa pun kita tetaplah berharga dan bernilai di hadapan-Nya.
Lihatlah, kasih Bunda Maria jadi sempurna, karena kasih Puteranya: dari darah-Nya yang tercurah dan oleh bilur-bilur luka-Nya.
Bunda Maria, doakanlah kami.
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

