Aku duduk di Kapel. Kupandang Tabernakel. Ada lampu bernyala di dekat Tabernakel. Di dalamnya Tuhan Yesus bertahta. Tidak ada kata-kata bersuara. Doaku tersusun rapi dalam batin. Kusebut nama-nama yang kudoakan.
Dalam diam, jiwaku tetap bergetar. Hawa di sekitar hatiku hangat. Pikiranku tenang. Nafasku teratur. Intinya: seluruh tubuh dan rohku menyatu dengan baik. Diamku hanya dengan Allahku yang hidup.
Bahasa diam itu penuh kuasa. Itulah sebabnya di Markus 1: 35, Lukas 4: 42, dan Lukas 6: 12, Yesus pergi ke tempat yang sunyi dan diam.
Bisakah kamu diam sejenak di salah satu sudut ruangmu?
Buka hati, sambut Tuhan Yesus dalam kerendahan hatimu. Nikmati intimasi nan mesra. Kebahagiaan sejati.
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

