Oleh : Rio, Scj.
“Loving and forgiving.” – Rio, Scj.
Kesalahan itu tidak untuk dilupakan, tapi dimaafkan dan direlakan demi kasih kesempurnaan. Maaf itu sebuah kata sederhana, tapi sulit diberikan. Jangankan diberikan, diucapkan saja sulit rasanya. Bagaimana mau memaafkan, saat luka dan kesedihan terasa menyakitkan. Bagaimana mungkin memaafkan, ketika bekas luka itu terasa nyeri. Bagaimana memaafkan orang yang mengulang-ulang kesalahan yang sama. Bahkan makin menjadi-jadi. Harus berapa kali dan sampai kapan dimaafkanโฆ
Memang memaafkan itu tidak mudah. Apalagi kesalahan yang dilakukan amat menyakitkan hati. Bahkan oleh orang yang kita cintai. Dikhianati oleh orang yang kita percayai. “Enak saja dimaafkan, dia juga tidak minta maaf, bahkan tidak sadar telah berbuat salah.” Jika itu yang dipikiran, karena kita fokus pada kesalahan dan sakit hati.
Sesungguhnya memberi masf itu tidak untuk mereka. Tapi terlebih untuk diri sendiri. Memberi maaf itu bukan karena mereka layak mendapatkannya. Tapi kita sendiri yang layak mendapatkan ketenangan, kasih, kedamaian, pengampunan, dan kebahagiaan. Ketika kita sulit memaafkan, ingatlah, bahwa kita juga pernah berbuat salah dan dimaafkan. Ketika kita sulit mengasihi, ingatlah, bahwa kita pun pernah dikasihi.
Sesungguhnya tidak ada seorang pun di dunia ini yang sempurna. Semua orang pernah berbuat salah. Kesalahan terjadi oleh anda, dia, mereka, dan kita semua. Sebaik-baiknya manusia, dia bukan malaikat. Seburuk-buruknya manusia dia masih punya hati. Fokuslah pada hal-hal yang baik. Jika ada hal buruk, sikapi dengan hal yang lebih baik; berkomunikasi, mengklarifikasi, mencoba untuk mengerti dan mengampuni.
Jikapun seseorang tidak bisa, dan tidak mau berubah, itu tidak masalah. Setidaknya kita sudah memaafkan, mengingatkan, dan mendoakan agar insaf dan perbaiki diri. Lakukan yang menjadi bagian kita, sisanya biarlah Tuhan yang bekerja.
Jangan lupa untuk selalu mengasihi dan bahagia.
Deo gratias.
Edo/Rio, Scj

