“Libur bekerja itu tidak berarti untuk santai. Karena nafas bekerja adalah untuk maknai hidup.” -Mas Redjo
Tidak berarti, karena toko tutup dan libur, saya lalu ngemall, melancong, atau bersantai ria. Sebaliknya saya dituntut makin produktif memaknai hidup ini.
Maaf! Jangan salah interpretasi. Produktif ini tidak identik ke materi.
Liburan, getol mencari uang? Juga, tidak! Tapi waktu liburan itu untuk diisi dengan hal yang bermanfaat dan berguna bagi orang lain.
Bagi saya, memaknai hidup itu juga tidak identik dengan melakukan hal hebat. Tapi lewat hal-hal sederhana yang dilakukan atas dasar peduli, empati, berbela rasa, dan berbagi pada sesama.
Jika tidak ada agenda bersama keluarga, saya biasanya beberes rumah, bermain dengan hewan piaraan, membaca buku, atau bersilaturahmi ke tetangga.
Dengan beberes rumah, karena saya terbiasa ingin melihat rumah tidak berantakan, tapi rapi. Selain itu saya ingin melatih anak-anak untuk belajar bekerja, mandiri, dan bertanggung jawab.
Dengan bermain bersama hewan piaraan, baik memberi makan ikan, dogy, kura-kura, dan burung gereja adalah hiburan yang murah meriah dan membahagiakan. Selain itu, saya ingin menikmati suasana rumah dan lingkungan yang hijau, asri, dan nyaman.
Dengan membaca buku, saya ingin menyirami otak ini dengan banyak hal positif yang bermanfaat untuk direalisasikan ke dalam tindakan nyata sebagai bukti konkrit.
Dengan bersilaturahmi ke tetangga agar jalinan perseduluran saya dengan mereka itu makin dekat dan akrab. Karena tetangga itu adalah keluarga terdekat kita.
Sejatinya memaknai hidup dengan hal-hal baik, positif, dan berguna itu berarti kita melukisi hati sendiri.
Hidup beriman itu adalah hidup yang berguna bagi sesama. Karena kita saluran berkat-Nya!
Mas Redjo

