Tiba-tiba teman seniorku bertanya: “Bro, kamu pernah berjumpa dengan Paus Fransiskus?”
“Tidak” jawabku tegas. Who am I, gitu lho sampai berjumpa Paus?
“Memang kenapa?” lanjutku.
“Itu lho, tulisanmu tentang Paus seperti orang yang kenal deket. Ngalir,” lanjutnya.
Iya sih, menuliskan tentang seseorang itu seperti melukis. Jika yang dilukis orangnya bersahaja, kita tidak butuh banyak warna.
Mengapa? Karena bersahaja itu mencakup kualitas-kualitas yang mudah dikenali dan diingat.
Ciri orang bersahaja seperti
(1) sederhana,
(2) tidak berlebihan, dan
(3) rendah hati yang membuat mereka yang bersahaja itu mudah dipahami dan disukai. Lebih mudah menuliskan atau melukiskannya.
Sederhana: artinya lebih memilih fungsi, bukan gengsi.
Tidak berlebihan: artinya lebih ke mutu diri dan aksi, bukan tampilan.
Rendah hati: artinya lebih ingin menghargai, bukan membentangkan diri.
Lantas kawanku itu nyeletuk: “Bro pasti orang yang bersahaja, ya!”
“Bukaaaan!” Saya ini justru suka salah dalam melukis diri sendiri. Tergoda makai warna orang lain, rasanya mantap, padahal tidak.
Kisah sebaliknya. Belakangan ini saya sibuk mengedit (3) buku seorang tokoh spiritual. Saya pernah jumpa, baca kisahnya, tapi menuliskan (edit) tulisannya, saya butuh banyak warna dan kata.
Rupanya, makin bersahaja seseorang itu makin irit warna untuk melukisnya.
Salam sehat.
Jlitheng

