| Red-Joss.com | Praxis keadilan itu bermula dari keluarga. “Melimpah, namun tidak tumpah.” Itulah gambaran cinta orangtuaku. Kehadiran mereka secara fisik di saat kecilku jujur tidak banyak. Hari-hari mereka diisi dengan mengejar hajat dasar hidup keluarga. Pangan, papan, sandang, seadanya, tetapi cukup. Saya tidak menyesal dengan kondisi seadanya. Nyatanya… saya justru bisa bertumbuh dengan aneka keterampilan hidup, efek jatuh bangun, pedih-perih kehidupan yang membuat diriku memiliki ketabahan, ulet, tangkas mengatasi masalah, ceria … dan tidak merasa satu pun hak-hakku sebagai anak dirampas.
Suatu ketika, dan itu adalah sebuah yang pertama dan terakhir, artinya tidak pernah terjadi lagi, saya bersaudara diajak orangtua kami, makan di warung Padang, jaraknya 10 km dari desaku. Itulah tingkat lezat tertinggi yang pernah kurasakan selama hidupku, yakni saat kugigit dan kurasakan betapa lezat ‘telor mata sapi’ dan… tak terbendung oleh nikmatnya telor mata sapi itu saya berucap, “Matur nuwun Pak, Simbok.”
Cinta orangtua melimpah namun tidak tumpah. Dengan kata lain tidak berlebihan. Pass…
Ketika saya tumbuh makin dewasa, dan akhirnya juga berkeluarga, makin saya sadari, bahwa mencintai anak harus melimpah, namun jangan sampai tumpah dengan kata lain melebihi kewajaran. Sehingga ada ruang untuk anak belajar mencintai dirinya dengan benar dan mampu mencintai sesama.
Setiap anak memiliki hak yang tidak boleh kita rampas dengan cinta tumpah ruah. Mereka berhak untuk jatuh bangun, untuk bersusah-payah meniti hidupnya, dan akhirnya menemukan dalam dirinya sendiri: kesadaran, bahwa yang ia miliki termasuk hidupnya sebagian milik orang lain. Itulah dasar keadilan sejati. Dia tidak akan mudah mengambil sikap atau perbuatan yang melukai atau merampas hak orang lain. Itulah “option for the poor and the oppressed.” Contoh nikah beda agama tanpa mempedulikan betapa pedihnya hati orangtua.
Salam sehat.
…
Jlitheng

