| Red-Joss.com | Mulai dari sini dulu: mata dan hati ini harus baik. Mata untuk melihat dan hati membantu untuk menilai. Kemudian mulut atau tangan yang mengekspresikannya.
Kadang-kadang kita salah menilai:
Satu: karena terburu-buru menilai, padahal baru melihat. Kita tidak menggunakan hati, atau miliki tenggang rasa. Hal-hal semacam ini yang bisa melukai perasaan orang lain.
Kedua: karena kita sudah terbiasa menilai dengan hal-hal yang negatif. Jika kita melakukannya adalah salah dan tidak baik. Di bagian ini, kita harus belajar dari setiap kesalahan. Karena tiap orang itu pernah berbuat salah atau melakukan kesalahan.
Di poin kedua ini, saya mau memberi contoh dari pengalaman pribadi sebagai imam selama 18 tahun. Khususnya dari pengalaman melayani Sakramen Pengakuan Dosa, aku belajar untuk menjadi orang yang positif. Belajar dari Yesus, Sang Guru yang menerima mereka yang berdosa.
Sungguh! Ketika kita bisa mendidik mata dan hati kita, sangat terbantu untuk berelasi, berkomunikasi, dan bersahabat dengan orang lain. Bahkan kehadiran kita pasti diterima dengan sangat baik oleh orang lain.
Sekali lagi jangan hanya melihat dan cepat menilai. Pikirkan dulu dengan hati yang bening. Sebab, ada banyak cerita ‘di balik’ semua peristiwa itu. Karena hidup itu hikmat dari Allah.
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

