“Tidak harus berdebat, berkonflik, dan emosi. Lebih bijak mengalah, mengaku salah, dan minta maaf. Berdamai itu indah.” – Mas Redjo
…
Selesai? Ya, harus diselesaikan dan disudahi saat itu juga. Jika tidak bakal jadi ganjalan di hati. Tidak hanya menyesak sakit, tapi beban itu menghimpit. Bahkan mampu melahirkan permusuhan baru atau dendam kesumat.
Berbeda hasilnya, jika kita berani mengalah. Tidak perlu lagi mencari mana yang salah atau benar.
Mengalah itu tidak berarti salah, kalah, dan direndahkan? O, tidak! Sejatinya kita sedang berjuang untuk mengalahkan keakuan diri agar kita bersikap murah hati.
Meminta maaf, karena kita berjiwa besar dan mengasihi sesama.
Merasa lemah dan kalah itu muncul dari si Ego jahat. Karena senang melihat konflik, pertikaian, dendam, dan permusuhan yang berlarut-larut.
Keakuan diri itu dapat dikendalikan dan dikalahkan, ketika kita berani merendahkan diri serendah-rendahnya, hingga orang tidak bisa merendahkan kita lagi. Rendah hati, karena mengasihi.
Mengalah untuk memahami orang lain itu harus diterapkan dalam hidup keseharian kita agar jadi kebiasaan baik berperilaku.
Dengan semangat rendah hati, kita belajar untuk hidup berhikmat.
Tidak ada masalah yang tidak terselesaikan.
Tidak ada kesulitan tanpa jalan ke luar dan solusi.
Segawat dan seberat apa pun pertikaian itu dapat diurai dan diselesaikan, ketika kita duduk bersama untuk bicara dari hati ke hati.
Semangat rendah hati untuk saling mengasihi dan mendoakan, kita memahami rencana Tuhan. Karena Dia memberi yang terbaik agar kita bahagia.
“Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan dan menaruh harapan kepada-Nya” (Yeremia 17: 7).
…
Mas Redjo

