“Tuhan menyingkapkan kemuliaan-Nya bukan untuk membuat kita kagum sesaat, melainkan untuk menguatkan kita berjalan sampai akhir.”
Allah membawa kami naik ke gunung yang kudus bersama Yesus. Di sana, wajah Yesus bersinar dan pakaian-Nya jadi putih berkilau. Dalam awan kemuliaan-Nya, Allah bersabda: “Inilah Anak-Ku yang terkasih. Dengarkanlah Dia.”
Tuhan, sebelum sengsara dan salib, Engkau memberi para murid pengalaman gunung. Engkau tahu, bahwa tanpa melihat kemuliaan, mereka akan hancur saat melihat penderitaan.
Engkau pun melakukan hal yang sama dalam hidup kami. Engkau memberi kami momen-momen doa yang hidup. Menyentuh hati kami dalam keheningan. Menguatkan kami melalui sabda-Mu. Itu semua adalah bekal agar kami tetap setia saat jalan jadi berat.
Seperti Abraham yang dipanggil meninggalkan tanah kelahirannya, kami dipanggil untuk melangkah dalam iman. Bukan keberanian buta, melainkan iman yang adalah buah dari mengenal Engkau: Allah yang setia pada janji-Nya.
Sering kali hati kami tidak pernah benar-benar merasa ‘di rumah’ di dunia ini. Selalu ada kerinduan yang lebih dalam. Engkau selalu mengingatkan kami, bahwa kami diciptakan untuk kemuliaan. Tubuh yang rapuh ini ditakdirkan untuk kebangkitan. Hidup yang dibatasi waktu ini dipanggil masuk ke dalam kekekalan-Mu.
Perintah-Mu tetap sederhana: “Dengarkanlah Dia.” Ajarlah kami sungguh mendengarkan, saat sabda-Mu menegur, ketaatan terasa berat, dan saat kami harus turun gunung menuju salib.
Biarlah sabda-Mu jadi pelita dalam langkah kami. Pengharapan dalam kasih setia-Mu meneguhkan jiwa kami, seperti yang kami nyanyikan dalam Mazmur hari ini.
Transfigurasikan kami, ya Bapa.
Bukan hanya di luar, melainkan di dalam. Bentuklah kami jadi pribadi yang percaya, taat, dan penuh harapan.
Kami taruh pengharapan kami pada-Mu, Tuhan, sebab kasih setia-Mu untuk selama-lamanya.
Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

