“Setiap kali Tuhan lewat, kerahiman-Nya membuka jalan, menyembuhkan luka, dan memampukan kita melihat kembali dengan mata iman.”
Dalam Injil, Yesus berhenti di hadapan seorang buta yang duduk dalam kegelapan. Yesus tidak lewat begitu saja. Ia berhenti, mendengarkan, dan menyembuhkan. Di sinilah hati-Nya dinyatakan: Allah yang tidak menutup telinga terhadap seruan, dan yang membiarkan kuasa-Nya mengalir sebagai belas kasih.
Bacaan dari 1 Makabe menunjukkan, betapa rapuhnya kuasa manusia: Raja-raja berubah, kepentingan bertabrakan, janji-janji tidak selalu tulus, tapi hanya kesetiaan-Nya yang tak pernah goyah.
Bersama Pemazmur, kami berseru, “Tali-tali orang fasik membelenggu aku, tapi Taurat-Mu tidak kulupakan.” Ya, Bapa, hanya sabda-Mu jadi pelita yang tidak pernah padam.
Sering kali kami seperti pengemis buta itu. Kami hidup seolah tanpa pengharapan. Kami duduk di tepi jalan kehidupan: lelah tubuh, kering rohani, atau patah semangat. Sementara dunia itu berlalu begitu saja. Banyak orang yang tidak peduli, memberi sedikit simpati, bahkan ada yang ingin membungkam kami. Juga terkadang suara yang paling keras itu adalah suara di dalam diri kami sendiri yang berkata, “Tidak usah memanggil Yesus… Dia tidak akan dengar.”
Ya, Bapa, Putra-Mu kini lewat. Bukan untuk menghukum, melainkan untuk membangkitkan iman. Bukan untuk menjauh, melainkan untuk mengajak kami masuk ke dalam penyembuhan yang hanya bisa diberikan oleh kerahiman-Mu. Ia bertanya kepada kami seperti Ia bertanya kepada si Buta itu:
“Apa yang kau kehendaki supaya Aku perbuat bagimu?”
Betapa sering kami meminta hal-hal kecil: jalan ke luar yang cepat dan penghiburan sesaat. Padahal yang sungguh kami perlukan adalah anugerah yang hanya dari pada-Mu: “anugerah untuk melihat.”
Bukalah mata kami, ya, Yesus.
Ajari kami melihat segala sesuatu dari sudut pandang Bapa: melihat, bahwa pergumulan, penundaan, luka, dan bahkan doa yang belum terjawab itu adalah tenunan dalam rencana besar-Mu; dalam irama kerahiman-Mu; dalam waktu-Mu yang sempurna.
Seperti si Buta yang tidak dapat memberi dirinya penglihatan, kami pun tidak dapat memberi diri kami iman. Tapi belas kasih-Mu bisa. Kuasa-Mu dan kasih-Mu bisa.
Bapa, kami memuji-Mu untuk pendampingan setia Putra-Mu.
Ketika aku sendirian, Dia tetap hadir. Aku sedang buta, Dia tetap menuntun. Bapa … tambahkanlah imanku, agar dapat mengenali, menggenggam, dan merasakan kasih-Mu, bahkan di tengah beban dan pencobaan.
“Tuhan Yesus, sebagaimana Engkau membuka mata si Buta itu, bukalah juga mataku… dan mata setiap orang yang kutemui hari ini. Amin.”
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

