| Red-Joss.com | Jangan melihat ke belakang dengan kebanggaan kosong atau penyesalan. Tapi lihatlah ke depan dengan penuh harapan, karena kita mempunyai iman.
Karena itu aku sudahi catatan di buku masa laluku dan kututup. Aku harus berani melihat realita hidup ini dan menyongsong masa depan yang lebih baik.
“Jika saatku tiba, aku tak mau mati merepoti anak-anakku,” kataku memotivasi diri untuk bangkit.
Sadar diri itu datang, setelah adikku mampir ke rumah, sebelum kembali ke Jakarta.
“Mas jangan egois mikir diri sendiri. Ingat, masa depan anakmu masih jauh, dan butuh pendampingan.”
Kata-katanya itu membangunkanku dari tidur panjang. Sepeninggal istriku, karena kanker darah itu membuat aku terpukul dan shock berat, sehingga terserang stroke.
Aku harus berdamai dengan diri sendiri, dan bangkit. Penyesalan itu membuat hidupku jadi makin berat, dan ngap.
Jika dulu istriku mau general check-up, mungkin penyakit itu segera terdeteksi. Faktanya, istri tidak mau ke RS, karena takut bayangannya sendiri.
Aku pejamkan mata, lalu menarik nafas panjang. Aku tidak boleh menghukum diri dalam penyesalan. Semua telah terjadi. Ke depan harus diperbaiki dan jadi hikmat.
“Aku tak boleh kalah dengan stroke. Aku harus bangkit, banyak berlatih untuk kesembuhan dan demi masa depan anak-anak,” pikirku optimis untuk bersukacita dalam pengharapan, bersabar dalam kesesakan, dan bertekun dalam doa! (Roma 12: 12).
Pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus (Roma 45: 5).
Perhatikanlah orang yang tulus dan lihatlah kepada orang yang jujur, sebab pada orang yang suka damai akan ada masa depan (Mazmur 37: 37).
Kita harus optimis untuk melihat dengan iman agar yang buruk dan jelek jadi baik, sedang yang gelap jadi benderang.
…
Mas Redjo

