Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
…
“Tuhan, sungguh hatiku tidak tenang, selama aku belum sampai ke hadirat-Mu.”
(Pujangga Agung Santo Agustinus)
…
Siapakah Manusia itu?
Secara filosofis, sang manusia itu dikisahkan sebagai makhluk yang terpental terbuang dari angkasa nan biru. Hal ini pun terjadi bukan atas kehendaknya.
Dampaknya adalah dia tertatih terlunta di atas bumi maya ini. Menyadari akan keberadaan ini, filsuf asal Prancis, Gabriel Marsel menjulukinya sebagai, “viator mundi” alias sang pengembara di atas bumi.
Secara antropologis, dia adalah salah satu ciptaan Tuhan yang paling mulia, dan digelari sebagai Corona atau mahkota dari segala ciptaan. Karena manusia itu diciptakan sesuai gambar dan rupa Allah. Aspek yang kedua, karena hanya manusialah ciptaan yang memiliki akal dan budi sempurna. Sedangkan hewan dan tumbuhan tidak memiliki akal budi.
Si Cilik dan Biduk Kertas
Di pagi hari nan cerah, tampak seorang bocah sangat sibuk di tepian sebuah sungai kecil.
Ternyata Bocah itu dengan antusias hendak melayarkan sebuah biduk kertas.
Seorang dewasa yang berada di dekat tempat itu dibuatnya penasaran. Karena sebelum biduk mungil itu dilayarkan, ternyata terdengar tuturan berupa sepotong doa kecil dari mulut bocah itu.
“Bidukku nan cilik, berlayarlah engkau hingga ke laut lepas. Bertahan dan bersabarlah, jika engkau menemui aneka rintangan. Saya percaya dan tanpa ragu, bahwa lambat laun di suatu saat kelak, engkau akan sampai di samudra biru. Itulah tujuanmu!”
Mari Melayarkan Harapan dan Impian Kita
“Vivere militare est,” Hidup itu adalah sebuah perjuangan, demikian bunyi sebuah adagium berbahasa Latin.
Apa yang perlu kita layarkan ke samudra biru hidup kita? Apa pula hal-hal yang perlu kita mimpikan/ visikan di dalam lorong waktu di sepanjang pelayaran hidup kita?
Pertana-tama dan yang utama adalah kita perlu tahu dan memahami, apa “visi dan tujuan hidup” kita di bumi ini?
Jika tanpa mengetahui dan memahami makna serta arti dari tujuan hidup ini, maka kita ini ibarat sebuah biduk mungil yang tak bernahkoda dan tanpa bentangan layar. Tentu, biduk bernasib malang itu akan kian tertatih terlunta dipermainkan arus ganas gelombang hidup zaman ini, bukan?
Ingat akan Spirit Doa sang Bocah Cilik
- Berlayarlah engkau hingga ke laut lepas.
- Hadapilah aneka tantangan dengan doa dan kesabaran.
- Saya sungguh yakin dan percaya, kelak engkau akan sampai di sana.
Hidup itu perlu Direfleksikan
Sungguh, hidup yang tidak direfleksikan pada hakikatnya adalah mati. Ketika direfleksikan dalam hidup ini berarti kita terus berusaha untuk menyadarkan dan menatanya agar hidup kita kian terarah serta terfokus.
Mari Bersama Bernyanyi
“Oh, ke manakah arah perahu, tiada angin membantu, oh, serasa abad berlalu serasa niat memburu …
Siapkan sampanmu, bentangkan layarmu, dan siapkanlah hatimu, menghadap Tuhan!”
Akhirnya, kita ini hanyalah ibarat biduk-biduk cilik dari kerapuhan segumpalan tanah liat yang sedang berlayar menuju Sang Hidup.
…
Kediri, 30 November 2024

