| Red-Joss.com | Melayani itu bukan program tetapi gaya hidup yang tidak berambisi menjala kekaguman diri, tetapi jiwa-jiwa.
Murid-murid seperti Petrus itu lebih dari hanya pengikut. Bersama teman seangkatan, ia memiliki peran khas sebagai penjala manusia. Bahasa ini adalah metafor, bahasa nelayan. Penjala manusia ini adalah misi seperti misi kedatangan Sang Mesias, Anak Allah yang Hidup. Ketika Yesus memanggil murid-murid-Nya, Ia memiliki sasaran khusus bagi para pemagang-Nya, menjadi penjala manusia atau pemenang jiwa, seperti diri-Nya sendiri.
Penjala manusia bukanlah sebuah program seperti Emaus Journey. Penjala manusia atau pemenang jiwa adalah ‘gaya hidup’ yang mewujud dalam semua kehidupan, entah dalam dunia kerja atau terutama dalam pelayanan.
Karakternya jelas sekali melayani dan sama sekali tidak menjala kekaguman untuk diri sendiri. “Apakah ada sosok seperti itu? Seperti siapa?”
Mahfud, pelayan publik yang tak pernah “menjala kekaguman”
Profesor Mahfud MD masih ingat benar hari itu, Sabtu 29 Oktober 2022, setahun yang lalu. Ia dalam perjalanan kembali dari Universitas Jember, Jawa Timur seusai menghadiri pengukuhan guru besar ilmu hukum Prof. Bayu Dwi Anggono. Dalam perjalanan, karena lokasinya yang tak begitu jauh, Mahfud hendak mampir ke rumah putrinya, Vina Amalia di pinggiran Probolinggo untuk melepas rindu dengan sang cucu.
Di jalan menuju rumah anaknya, Mahfud melihat banyak orang berkerumun dan berbaris. Tiba-tiba, matanya melihat sang cucu, Majda ada di antara kerumunan orang-orang itu. Mahfud meminta pengemudi kendaraannya berhenti dan ia turun dari mobil, menghampiri sang cucu. Dengan gembira, Mahfud mengajak cucunya untuk pulang ke rumah.
Ternyata, Majda menolak ikut pulang. Ia bersikeras tinggal bersama teman-temannya. “Mau menonton menteri yang mau datang,” katanya.
Mahfud tertawa lebar. Menteri yang ditunggu para warga adalah ia sendiri. Kakek Majda. Cucu berusia enam tahun itu tak tahu jika kakeknya seorang menteri.
Profesor Mahfud adalah sosok pejabat tinggi yang tak biasa. Ia pernah menjadi anggota DPR, Menteri Pertahanan, Menteri Hukum dan HAM, Ketua Mahkamah Konstitusi, dan sampai kini masih Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan keamanan. Tapi kehidupan dirinya dan keluarganya jauh dari gelimang seorang pejabat tinggi.
Mahfud MD memiliki tiga anak. Tiga-tiganya tak dikenal publik, sampai beberapa hari lalu Mahfud mengenalkannya. Mahfud memang melarang anak-anaknya mengenalkan diri sebagai putra putri seorang pejabat tinggi negara.
Semasa putri keduanya, Vina Amalia kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, ia pernah dikira anak kurang mampu, karena menyembunyikan identitasnya sebagai anak Ketua MK. Seorang dosen kerap membagi susu kepada Vina yang terlihat sebagai mahasiswi tak mampu karena penampilan sehari-hari yang sederhana.
Suatu hari, Mahfud MD mengundang dosen tersebut untuk makan bersama. “Pak, terima kasih ya sudah berbuat baik kepada anak saya,” kata Mahfud. Lho, siapa nama anaknya? “Vina Amalia,” kata Mahfud MD. Sang dosen terperangah.
Anak pertama Mahfud yaitu Mohammad Ikhwan Zein juga seorang dokter. Jika Vina dari Unair, Ikhwan lulus dari Universitas Gadjah Mada, almamater Mahfud. Ikhwan kemudian mengambil pendidikan dokter spesialis di Universitas Indonesia dan gelar doktor di University of Amsterdam, Belanda.
Sementara si bungsu, Royhan Akbar menjadi Dosen Hukum di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Tiga anak Mahfud adalah orang biasa. Tak pernah diberi keistimewaan, dan dilarang memanfaatkan nama besar bapaknya. Bahkan, kata Mahfud, biaya kuliah anak-anaknya bukan darinya, melainkan dari beasiswa yang mereka cari sendiri.
Begitulah. Sudah jarang kita mendengar kisah begini tentang seorang pejabat yang memisahkan kehidupan pribadi, keluarga, dan jabatan yang disandang. Dengan menjalani kehidupan seperti itu, Mahfud MD bisa berjalan dengan kepala tegak dan menuai kepercayaan khalayak.
Itu pula sebabnya, saat datang ke hadapan DPR, di depan parlemen yang biasanya teramat mendikte para pejabat pemerintahan, Mahfud tampil digdaya. Dalam sebuah rapat dengar pendapat di Senayan, seorang anggota DPR menyela ucapannya dengan interupsi, Mahfud langsung menyergah: “Tidak usah interupsi. Dengarkan dulu saya bicara,” katanya. Sang anggota DPR yang biasanya berangasan itu terdiam dan tunduk.
Saat itulah, kita menyaksikan hadirnya sosok seorang pejabat negara yang tak biasa: pejabat yang berani mengungkapkan kebenaran, dan tak takut pada tekanan.
Ah, walaupun Mahfud bukan seorang Katolik, dia pasti masuk deretan “penjala manusia Indonesia”. Yakin!
Salam sehat berlimpah berkat.
…
Jlitheng

