| Red-Joss.com | Fenomena sangat menarik terjadi di lingkungan kami, karena sepanjang 4 kali permenungan bertema “Solidaritas dan Subsidiaritas” tahun 2024 ini. ‘Rame’. Kendati 10% warganya lansia, kali ini tetap ramai yang hadir. Jumlah yang hadir memang bukan tujuan utama. Ketika banyak teman yang hadir dalam setiap pertemuan, di atas 40 orang, sungguh menggembirakan hati dan menghangatkan suasana. Puji Tuhan!
Fenomena kedua, setiap pertemuan, telah dipandu oleh generasi yang lebih muda, dengan gaya yang berbeda, sehingga bagi saya, sebagai yang paling senior dibilangan usia, dapat menjalankan pesan Ki Hajar Dewantara, “tut wuri handayani” dalam melayani.
Fenomena ketiga, terjadi pada pertemuan ke 4, karena temanya mengajak kita untuk tidak henti berbakti bagi nusa dan bangsa. Bacaannya tentang Saulus yang setelah bertobat jadi Paulus dengan peran sebagai ‘menteri luar negeri’ dalam pewartaan iman.
Lagu penutup: memang bukan seperti yang saya tulis di bawah ini, namun sangat cocok untuk menggambarkan nyala semangat mengabdi yang harus tetap berpijar:
(Lagunya : Kumau Cinta Yesus Selamanya)
“Ing ngarso sung tulodo – tak lakoni
Ing madyo mbangun karso – tak lakoni
Tut wuri handayani tetep tak lakoni – ngugemi dawuh Dalem saklawase.”
Aku berkata kepadamu: “Sesungguhnya, jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah” (Yoh 12:24).
Salam sehat dan melayani sampai akhir.
…
Jlitheng

