“Tidak seorang pun bisa menolong diri sendiri, jika tidak membangun jembatan kebaikan itu dengan sesamanya.” -Mas Redjo
…
Ketika lahir dan mati, kita tidak bisa menolong diri sendiri. Kita membutuhkan bantuan orang lain.
Sadar diri adalah kebijaksanaan. Hidup ini hanya sementara, ‘mung mampir ngombe’ agar tidak lupa srawung, karena tetangga adalah keluarga terdekat kita.
Saya mengajari anak tidak sekadar dengan nasihat, tapi lewat contoh dan keteladanan. Kita juga dituntut untuk hadir dan ada pada mereka yang susah serta terpinggirkan.
Sebagai contoh, ketika ada seorang warga Lingkungan yang meninggal dunia. Meski cukup lama tinggal di Lingkungan, tapi ia belum lapor ke Pengurusnya.
Ia juga tidak memenuhi kewajiban, seperti membayar iuran bulanan. Diajak aktif dan sembayangan, juga menolak dengan alasan sibuk bekerja.
Meski begitu, tidak ada alasan bagi Pengurus Lingkungan untuk tidak peduli dan mengabaikannya. Tapi melayaninya dengan sepenuh hati sesuai komitmen, ketika Pengurus Lingkungan itu dilantik di Gereja.
Beruntung dan bersyukur, karena Pengurus Lingkungan itu cekatan dan kompak. Sehingga warga yang meninggal di hari keagamaan itu dilayani baik. Semua urusan surat-surat pemakaman dan ibadah itu dilancarkan.
Sejatinya, ketika kita menyingkirkan ego diri untuk menghadirkan kasih Tuhan dalam pelayanan, dijamin semua urusan dilancarkan dan diberkati-Nya.
Melayani sesama sebagai bakti kita pada Tuhan Yesus.
…
Mas Redjo

