“Blessed are those servants whom the master finds vigilant on his arrival” (Luke 12:37).
Melayani itu adalah panggilan hati. Apa saja yang dilakukan dengan hati, misalnya belajar, bekerja dan melayani, hasilnya sungguh memuaskan hati.
Pribadi yang melayani dengan hati itu tidak cepat menyerah, tidak mudah tersinggung, dan tidak pergi begitu saja, karena sudah tidak cocok bla bla. Pribadi yang sudah terpanggil untuk melayani, biasanya akan terus melayani di segala kondisi yang dihadapi. Sebab, dia sudah meyakini, bahwa Tuhan sudah mengutus dan ‘menanamnya’ di tempat itu.
Kita dituntut untuk tiga sikap ini, yaitu setia, bertanggung jawab, dan siap sedia. Jika di komunitas pelayanan kita dipenuhi dengan pribadi-pribadi yang mempunyai tiga sikap di atas, saya sangat yakin komunitas yang dilayani akan jadi berkat bagi banyak orang. Hidup bersama jadi sangat indah dan perjumpaan kembali selalu dinantikan dan dirindukan. Sehingga pastinya kesempatan untuk berbagi dan berbuat baik terbuka lebar.
Sahabat jangan takut jadi seorang pelayan bagi yang lain. Sang Guru sudah menegaskan, “Aku datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani” (Mark 10: 45). Semangat ini pasti sudah tertanam juga dalam diri para sahabat. Kita dipanggil juga untuk melayani dengan setia, tanggung jawab dan siap sedia. Amin.
Rm. Petrus Santoso SCJ

