| Red-Joss.com | Melayani sesama sekadar basa basi itu tiada arti, tapi melayani dengan tulus hati itu anugerah Allah yang bernilai tinggi.
Sesungguhnya, rahasia hidup sukses dan bahagia itu sederhana. Ketika kita melayani sesama dengan sepenuh hati, seperti kita perlakukan diri sendiri.
Sederhana, tapi sulit dan berat untuk diterapkannya. Tantangan yang terberat itu tidak datang dari mereka yang dilayani. Yang ingin serba cepat, akurat, dan peroleh yang terbaik. Tapi tantangan itu muncul dari keegoisan kita sendiri, karena pamrih.
Apa pun jenis pelayanannya, jika didasari pamrih, dijamin hasilnya jauh dari memuaskan.
Dalam pelayanan publik, kita sering dengar, lihat, atau alami sendiri. “Kalau bisa dipermudah, mengapa dipersulit?”
Bagaimana reaksi kita? Kita tentu juga tidak mau dilayani secara asal-asalan, setengah hati, dan terpaksa. Tapi dilayani secara baik dan sepenuh hati.
Sesungguhnya, jika pelayanan itu jadi pilihan profesi atau pekerjaan, seharusnya kita juga bersikap profesional sesuai pekerjaan, sumpah jabatan, dan tanggung jawab. Tidak didasari pamrih, atau ada udang di balik batu. Tapi melayani yang sumbernya dari hati, dan ikhlas.
Begitu pula halnya, jika kita sebagai pedagang misalnya. Ketika kita mengedepankan hati nurani dalam melayani pelanggan, mutu barang yang berkualitas, dan harga yang kompetitif. Dijamin kita bakal didatangi banyak pelanggan, dan usaha pun berkembang.
Sama halnya, ketika kita melayani keluarga sendiri. Dipastikan kita juga ingin memberikan yang terbaik untuk seluruh anggota keluarga.
Semangat berkurban demi keluarga adalah semangat keteladanan yang diajarkan Yesus yang kurbankan diri demi keselamatan kita. Sakit dan perih, jika dirasakan. Tapi manis dan bernilai tinggi, jika kita melakukan semua itu dengan ikhlas hati. Sama seperti kita memanggul salib untuk ikuti jejak Yesus.
Semangat berkurban agar hidup makin bermakna, dan bahagia.
…
Mas Redjo
…
Foto ilustrasi: Istimewa

