| Red-Joss.com | Tidak semua kalangan umat dapat menerima empunya Kaling seperti saya. Saya ini bukan siapa-siapa. Bukan lulusan ilmu agama, tidak belajar ilmu ketuhanan dan juga bukan dari lingkungan terpandang. Jika ada yang memandang saya kurang wawasan, kurang mampu, dan tidak pandai, ya ada benarnya, sebab bekal saya menjadi Kaling ini memang sangat terbatas
Menjadi Kaling itu memang untuk bekerja, untuk melayani dan mengabdi gereja, umat di lingkungan ini, bukan untuk menjadi orang berkuasa, atau bukan juga untuk bisa melakukan segala-galanya.
Kuncinya untuk dapat bekerja, melayani, mengabdi gereja dengan damai adalah rendahkan hati kita serendah mungkin, sehingga tidak ada orang yang mampu merendahkan kita lagi.
Jika ada hal-hal negatif yang muncul dalam pelayanan jangan kita tanggapi dengan sombong, sebab hanya akan membuat kita sakit: “Biarkan saja!”
Sikap tidak sombong atau rendah hati akan membuat kita lebih bahagia dalam hidup, terhindar dari rasa cemas, karena melindungi harga diri. Manfaat lain yang penting adalah membuat diri kita tetap sadar, bahwa saya ini bukan siapa-siapa, punya kekurangan, tapi ingin untuk melayani gereja. Menyadari kekurangan dapat membuat kita lebih giat belajar dan terus mengembangkan diri.
‘Humility’ atau rendah hati adalah esensi ‘Leading by example’: seorang Kaling yang amat utama di lingkup gereja yang masih muda berdemokrasi di era ini.
Tetap semangat berbagi berkat.
Jlitheng
…
Foto Ilustrasi: Istimewa

