Ketulusan dan segala anugerah Allah sesungguhnya tidak pernah bisa dibandingkan dengan persembahan dan kebaikan manusia. Jadi agak mengherankan, jika ada dari antara kita yang kemudian merasa berhak menyampaikan permohonan kepada Allah tanpa memahami terlebih dahulu yang hendak dimohonkan dalam doanya.
Kisah persembahan janda miskin tanpa identitas dalam Injil menyampaikan pesan, bahwa jangan menunggu berkelebihan dulu kita berbagi dan memberi kepada sesama. Sebab janda miskin itu memberi dari kekurangannya dengan tulus. Dari sisi ekonomi mungkin ia miskin, tapi dari sisi iman ia sangat kaya. Di balik kemiskinannya, ia memiliki kepercayaan dan kepasrahan yang total kepada Allah. Ia tidak merasa khawatir hari esok dalam hidupnya, karena yakin Tuhan selalu memberikan yang dibutuhkan. Ia sungguh percaya pada kebaikan Tuhan, sehingga ia memberi secara total.
Dalam kehidupan sehari-hari kita sering kali berpikiran, bahwa kita akan memberi dan berbagi dengan sesama kalau hidup kita sudah mapan dan berkecukupan. Tapi dari janda miskin ini kita belajar memberi dari kekurangan kita. Sebab Allah memberikan berkat kepada kita tanpa mengenal waktu; kapan pun Tuhan selalu berkarya untuk kita. Demikian juga kita diajak untuk berbakti kepada Tuhan dengan melayani sesama dalam segala kekurangan kita.
Maukah kita memberi dari kekurangan kita atau menunggu berkelebihan baru berbagi dengan sesama?
“Ya, Yesus Putra Allah, tuntunlah kami agar selalu memurnikan motivasi kami dalam melayani sesama. Mampukan kami meneladan janda miskin yang memberi dari kekurangannya. Amin.”
Ziarah Batin

