| Red-Joss.com | Saya percaya bahwa setiap pribadi yang tinggal di atas bumi ini sudah disiapkan dengan tugas khusus oleh Tuhan.
“Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya” (Efesus 2: 10). Ini yang sudah diberikan oleh Tuhan: “Abilities, Interests, talents, gifts, personality, and life”. Tidak ada yang kurang. Lengkap dan sempurna. Kita harus bangga dengan apa yang telah diberikan ini.
Suatu kombinasi yang saling melengkapi, tinggal bagaimana kita memfungsikannya dengan peran yang semakin konkrit. Jika mau bukti lebih nyata, di waktu senggang, ambil Kitab Suci dan baca dari beberapa perikop ini: Roma 10: 12; 12: 4-5; 1 Korintus 1: 10; 8: 6; 12: 13; Efesus 4: 4-5; 5: 5 dan Filipi 2: 2. Intinya: setiap pribadi mempunyai potensi, dipanggil dan diutus untuk suatu tugas pelayanan. Tidak perlu dihindari dan dianggap berat sebagai beban, tapi sebagai kesempatan untuk mengambil bagian dalam pekerjaan-pekerjaan Tuhan.
Saya sendiri terpanggil untuk menjadi pelayan, karena teladan yang diberikan oleh Bapakku. Beliau adalah seorang katekis dan seorang guru agama Katolik di beberapa SD dan SMP. Beliau tidak pernah memintaku untuk menjadi seorang katekis, tapi saya telah terpikat oleh semangat pelayanannya. Dengan sepeda tuanya, beliau berkeliling dan mewartakan Sabda Tuhan dengan sukacita. Saatnya pun tiba, aku terpanggil untuk menjadi pelayan dan saya memilih, bukan menjadi seorang katekis atau guru agama seperti Bapak, tapi saya mau menjadi seorang Imam. Setelah kedua pengalaman itu dipertemukan, saya merasa bahwa teladan dari seorang Bapak telah memberikan inspirasi kepadaku untuk menjadi seorang pelayan dan Tuhan melengkapinya dengan rencana lain yang disiapkan, yaitu dengan dipanggilnya saya untuk menjadi seorang Imam. Seperti kata Pengkotbah, “Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktunya” (Pengkotbah 3: 11).
Jika direnungkan lebih dalam, saya tertarik dengan kata-kata ini, “Listening to your heart.” Saya berani mendengarkan hati saya, karena dari sumber itu saya mengenali “my desires, hopes, interests, ambitions, dreams, and affections.” Keinginanku itu sudah terwujud: melihat Bapakku dan menjalani hidupku, yaitu menjadi seorang pelayan.
Lewat kisahku di atas, saya mengajak setiap keluarga, khususnya bagi orangtua untuk menanamkan nilai-nilai pelayanan sedini mungkin. Itu dimulai dari keteladanan orangtua. Kemudian dari pengalaman itu, seorang anak akan mempunyai kisahnya sendiri dan saya yakin, bahwa Tuhan mempersiapkan dengan sempurna. Bagaimana bentuk pelayanannya? Tuhan mempunyai rencana yang indah. Tapi pertama-tama berilah contoh dan teladan tentang semangat dari pelayanan kita sebagai orangtua. Bukti konkritnya? Saat kita melayani, jangan itu menjadi beban atau tempat untuk unjuk popularitas atau hanya sekadar mengisi waktu luang.
Juga saat kita melayani, jangan itu menjadi kesempatan untuk menghibur diri atau mencari kepuasan batin bagi diri sendiri, lalu tidak peduli dengan keluarga sendiri atau pekerjaan kita. Bukan itu yang dimaksudkan. Tapi tempatkan pelayanan sebagai bagian dari rencana Tuhan yang sudah disiapkan.
Kita melayani, karena memang Tuhan mau memakai kita. Pastinya, dengan pelalayanan itu, harus disadari benar, bahwa pelayanan ini membuat kita semakin terlibat untuk ambil bagian dalam karya keselamatan Allah. Keduanya harus ketemu dulu, yaitu, “What I am able to do and God wants me to do.” Sebab pelayanan itu adalah suatu panggilan. Sifatnya juga unik: kita dan Tuhan yang tahu. Mari kita melayani dengan sukacita! Sehingga, “It feels great to do what God made you to do”.
Jangan lupa, semangat pelayanan itu dimulai lebih dulu dari rumah sendiri.
…
Rm. Petrus Santoso, SCJ
…
Foto Ilustrasi: Istimewa

