“Jangan meliarkan imaji. Tetaplah komitmen melaksanan kewajiban panggilan nurani.” -Mas Redjo
Berefleksi itu baik, karena hidup ini harus dimaknai. Tanpa hak untuk bertanya, membantah, dan apalagi berprasangka buruk, tapi patuh mewujudkannya.
Jujur dan membosankan, ketika saya memutuskan untuk menulis hal-hal baik, positif, dan keimanan itu setiap hari.
Tulisan saya jauh dari hingar bingar dunia hiburan, bahkan cenderung monoton. Konsekuensi terburuk adalah, tidak diminati, bahkan ditinggalkan pembaca!
Saya sadar-sesadarnya dengan pilihan itu. Saya berusaha berjuang untuk menghidupi komitmen itu agar konsekuen dan konsisten dengan keputusan hati hingga tarikan nafas terakhir.
Sejatinya tujuan hidup ini tidak agar disenangi atau menyenangkan orang lain. Tapi yang utama adalah untuk memaknainya agar hidup kita berkenan bagi Tuhan.
Saya bersyukur dan disadarkan dengan teladan kerendahan hati Bunda Maria untuk memahami rencana Tuhan; taat dan setia pada kehendak-Nya.
Untuk mengatasi rasa bosan dalam menulis, saya mohon penyertaan dan pendampingan Tuhan untuk selalu berserah dan mensyukurinya agar hati saya diteguhkan.
Sejatinya rasa bosan itu muncul dari keegoan sendiri, sehingga jadi beban di hati, menghimpit berat agar saya melepas beban itu, dan kabur dari tanggung jawab.
Perlahan tapi pasti, rasa bosan itu saya buang jauh dari hati. Karena melayani Tuhan itu anugerah-Nya. Menulis sebagai ungkapan syukur, karena saya diberi nafas kehidupan, kesehatan, dan keselamatan jiwa oleh kebangkitan Putera-Nya.
Menulis tidak lagi membosankan, tapi untuk membahagiakan jiwa ini, karena saya diperkenankan untuk melayani-Nya.
Mas Redjo

