Pada waktu berkunjung ke sebuah kampung terpencil untuk melakukan riset, seorang Profesor muda yang amat terkenal jatuh cinta kepada seorang wanita muda di kampung itu. Banyak teman, anggota keluarga, dan orang-orang kampung menaruh prasangka buruk kepadanya. Mereka beranggapan, bahwa ia telah mengalami gangguan jiwa.
Prasangka buruk terhadap orang lain biasanya disebabkan oleh dua faktor utama, yaitu kurangnya pengetahuan atau pemahaman dan pikiran negatif. Ketika kedua penyebab ini menyatu dan saling mengandaikan satu sama lain, seseorang itu tidak sekadar berprasangka buruk, tapi ia sudah memiliki sikap nekat berbuat jahat dan brutal. Perkelahian dan perang antara sesama manusia sering disebabkan oleh prasangka buruk seperti ini.
Nabi Samuel, seperti yang diwartakan di dalam bacaan pertama, sedang berhadapan dengan umat Israel yang masih kurang pengetahuan tentang kehendak Tuhan dan nasib mereka yang sudah lama ingin memiliki seorang Raja. Mereka menyangka, bahwa Tuhan bukan pemimpin mereka sesungguhnya. Samuel bekerja untuk memberikan mereka pemahaman yang mereka perlukan. Yesus Kristus juga menghadapi prasangka sangat buruk dari para lawannya.
Sikap kaum Farisi dan para ahli Taurat kepada Yesus jauh melebihi sikap orang Israel dahulu pada zaman Samuel. Yesus menghadapi sebuah gelombang prasangka buruk yang sangat besar, karena para lawannya itu menyatukan sikap negatif dan pemutarbalikan pengetahuan tentang kebenaran dari Tuhan. Mereka adalah orang-orang cerdik dan pandai, tapi pengetahuannya sungguh salah dan amat berbahaya. Akibatnya, mereka jadi jahat dan brutal terhadap Yesus dan kehendak Tuhan Allah sendiri.
Di dalam hidup kita sehari-sehari, khususnya di dalam pergaulan dengan sesama, kita mungkin saja sering berprasangka buruk terhadap orang lain, yang disebabkan oleh kurang pengertian atau pemahaman dan pikiran atau perasaan negatif. Pikiran atau perasaan negatif itu seperti menyikapi perbedaan-perbedaan di antara kita dengan anggapan kurang baik atau tidak cocok. Untuk melawan prasangka-prasangka buruk itu, Tuhan Yesus mengajarkan kita satu sikap yang sesungguhnya berasal dari dirinya sendiri.
Yesus mengajarkan kita untuk mencabut langsung ke akar permasalahan, yaitu dosa. Jadi prasangka buruk memang harus dicabut, dengan cara memperluas wawasan atau pemahaman dan membangun kebiasaan berpikir positif.
“Ya, Allah yang Maha Murah, semoga kami tidak goyah, karena tantangan atau halangan yang mengganggu iman dan kesetiaan kami kepada-Mu. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

