“Dari jurang yang paling dalam aku berseru kepada-Mu, ya, Tuhan. Namun kasih-Mu lebih tinggi dari dosaku, dan cinta-Mu lebih terang dari rasa malu-ku.”
Ya, Allah, dari kedalaman hati kami berseru kepada-Mu, seperti Pemazmur yang memohon ampun dan pengharapan. Dalam Kristus Yesus, Engkau menyingkapkan kebenaran yang tidak lahir dari usaha manusia, melainkan dari iman dan kasih karunia. Anugerah yang Kau curahkan bagi setiap orang yang percaya, tanpa pembedaan.
Yesus berbicara tegas melawan kemunafikan, membuka mata hati yang tertutup oleh kesombongan. Sabda-Nya menusuk bukan untuk menghukum, melainkan untuk membangunkan, memurnikan, dan mengundang kami kembali ke dalam kebenaran dan kasih. Api kemarahan-Nya adalah nyala kasih-Nya, yang membakar kepalsuan dan menyucikan hati bagi kerahiman.
Tuhan, betapa sering kami menyerupai orang Farisi dan ahli Taurat! Kami membela penampilan, berpegang pada ‘kebenaran’ kami sendiri, dan menolak kasih yang mengubah hati. Kami ingin dihormati lebih daripada disucikan, diterima lebih daripada jadi tulus. Ampunilah kami, ya, Tuhan, karena sering menutup pintu rahmat, baik bagi diri kami sendiri maupun bagi sesama.
Seperti yang dialami St. Margareta Maria Alacoque, kekudusan sejati mengalir dari cinta yang rendah hati: cinta yang tidak membeda-bedakan, yang menyambut para pendosa, dan cinta yang mempersembahkan diri sebagai penebusan bagi dunia yang acuh dan tak tahu berterima kasih. Semoga teladannya menuntun kami beristirahat di dalam Hati Kudus-Mu: lembut dalam menilai, kaya dalam belas kasih, dan teguh dalam iman.
“Ya, Yesus, jadikan hati kami seperti hati-Mu: bernyala dalam belas kasih, sabar dalam cinta, dan bebas dari kemunafikan.
Ajarlah kami mencintai seperti Engkau tanpa membedakan, kesombongan, dan tanpa batas. Amin.”
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

