Kita tentu tahu, bahwa bersikap angkuh itu bisa merusak apa saja yang sudah dibangun dengan baik. Anehnya, sikap angkuh ini sering menggoda kita, sehingga kita benar-benar tergoda. Lalu kita menjadi pribadi yang angkuh.
Sikap angkuh itu muncul, ketika kita ingin menjadi lebih dibandingkan dengan yang lain. Tanpa disadari, jika ada orang yang melebihi kita, muncul rasa tidak suka.
Tanda-tanda orang yang tidak suka dengan kita itu mudah ditebak: kelihatan dari cara bicara dan sikapnya. Juga kelihatan saat dia bercerita: ini orang suka atau tidak suka dengan si A atau B. Jika kita berani memperbaiki, kita bisa langsung menegur dengan hati, tapi jika kita tidak berani memperbaiki, maka yang terjadi ikut asyik dipengaruhi oleh yang bercerita.
Sesungguhnya mudah menebak orang yang angkuh itu. Ketika yang diceritakan hanya baik bagi dirinya dan buruk untuk yang tidak disukai. Tampak juga saat bercerita baik dengan yang diidolakan dan bercerita tidak baik untuk pribadi yang tidak disukai. Tanda lain, selama pembicaraan cenderung banyak ‘buruknya’ daripada ‘kebaikkan’. Sehingga pembicaraan tidak mendewasakan, melainkan sangat kekanak-kanakkan, karena akhirnya suka membanding-bandingkan.
Hal sama seperti yang dialami oleh Yesus. Mereka minta tanda-tanda, karena mau membandingkan. Mereka keras kepala dan angkuh. Mereka tidak bisa melihat dan menerima kebaikan-kebaikan yang di depan mata. Semua yang dilakukan Yesus dianggap kurang. Sehingga mereka mencari alasan dan minta ‘tanda’ itu sebagai pertanggung-jawaban Yesus.
Yesus mengatakan, bahwa tidak akan diberikan tanda, selain tanda Salomo dan Yunus. Dia sekaligus menegaskan, bahwa yang di depan dan sedang berbicara dengan mereka itu lebih besar dari Raja Salomo dan Nabi Yunus.
Orang angkuh itu memang pantas ditegur dengan keras, jika tidak ia menjadi lupa diri.
Sikap angkuh itu juga tidak layak pelihara. Karena merusak hal-hal baik dan positif hubungan kita dengan sesama.
Semoga di masa Prapaskah ini kita dimampukan menimba semangat pengorbanan Yesus untuk menjadi pribadi yang rendah hati. Hidup saling mengasihi dan bahagia.
Rm. Petrus Santoso SCJ

