“Meja makan seharusnya jadi tempat di mana sukacita, kegembiraan, dan kelezatan makanan dirasakan. Tapi sesaat, ketika ada niat jahat dan pengkhianatan berkecamuk di dalam hati, makanan-makanan itu terasa bagaikan racun yang bisa mengubah meja makan jadi meja kurban.”
Hari Kamis Putih sebagai hari pertama dari Tri Hari Suci selalu jadi momen terindah dalam Gereja Katolik, karena di dalam liturgi hari ini, dua Sakramen penting dikenang dan dirayakan, yakni Imamat dan Ekaristi.
Pada Misa pagi atau lazimnya disebut Misa Krisma, berkumpullah para Imam bersama Uskupnya untuk melaksanakan pemberkatan minyak-minyak suci; baptis, minyak suci dan krisma serta pembaharuan janji imamat para Imam di hadapan Uskup. Sedangkan malam harinya seluruh umat berkumpul dalam Misa Kudus Kamis Putih, mengenangkan perjamuan malam terakhir Yesus bersama para murid-Nya.
Ketika kita larut dalam kesedihan, karena Yesus menyantap hidangan terakhir bersama para murid-Nya, kiranya hati kita dibuat bersukacita. Justru momen ini melahirkan dua Sakramen penting yakni Ekaristi dan Imamat; keduanya saling melengkapi, karena tidak ada Ekaristi tanpa para Imam (Imamat).
Kita diingatkan, bahwa:
- 1) Kadang sukacita diubah jadi kesedihan hanya, karena adanya pengkhianatan;
- 2) Meja makan seharusnya jadi tempat di mana sukacita dan kegembiraan lahir dan dirasakan, bukan tempat untuk memupuk dan melakukan rencana jahat;
- 3) Berkorban itu sulit, bila dapat dilakukan, maka akan jadi bukti dari seorang pencinta sejati;
- 4) Ajakan Sang Guru untuk saling membasuh jadi misi kita setiap murid-Nya untuk saling melayani dalam hidup.
Akhirnya malam ini Anda akan merasakan sukacita di tengah kesedihan, tapi jiwamu akan merasakan kedamaian, ketika Yesus mendatangimu dalam rupa Tubuh dan Darah-Nya.
…
Monsignor Inno Ngutra, Pr

