| Red-Joss.com | Pernahkah kamu mendengar dua kata di atas? Pernahkah kamu memilikinya? Bagaimana rasanya?
Orang yang super sibuk, pasti merindukan dua kata itu. Sedangkan orang yang tidak mempunyai kegiatan, waktunya habis tanpa menghasilkan apa-apa!
Tapi kita semua sepakat, bahwa waktu itu sangat berharga. Ibaratnya setiap detik itu ada nilainya.
Itu terbukti, karena setiap aktivitas diukur dengan waktu. Di saat kita sedang berkegiatan, kita melihat waktu. Sedang bagi orang yang hidupnya disiplin itu memiliki menejemen waktu: ada waktu ini dan itu! Terukur!
Dari waktu yang sudah diatur itu ada ‘Me-Time’, yaitu waktu untuk diri sendiri. Meluangkan waktu untuk melakukan ini dan itu. Tanpa ada beban dan terharmonisasi.
Inilah rekomendasiku: sesibuk apa pun seseorang, ia harus tetap bisa meluangkan waktu untuk dirinya sendiri, alias memiliki ‘Me-Time’.
Hanya saja artinya jangan dipersempit, bahwa aktivitas dari ‘Me-Time’ adalah memperpanjang waktu tidur. Tidak! Tapi bisa dibuat lebih berkualitas. Misalnya, waktu untuk membaca buku, berefleksi, membuat konten-konten yang positif di media sosial, dan pengembangan bakat yang dimiliki. Artinya, kita semakin dibuat ‘terkejut’ dengan jati diri kita ini.
‘Me-Time’ itu harus diciptakan, setelah itu dijalankan dan dinikmati. Tujuannya agar kita benar-benar merasakan damai dan bahagia. Jika bukan rasa itu yang dialami, berarti kita belum memiliki ‘Me-Time’.
Makna lain yang didapatkan saat menikmati ‘Me-Time’ adalah kita bisa fokus pada hal-hal yang terpenting dalam hidup ini. Hal ini yang harus disusun, dikerjakan, dihindari, dievaluasi, dan dikembangkan.
‘Me-Time’ itu seperti jendela hati, sehingga bisa membaca dari seluruh keberadaan hidup ini dari satu titik. Aku ada waktu sejenak, dan aku bisa berubah!
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

