RedJoss.com – Mengejar sesuatu yang kecil untuk kehilangan yang lebih besar, mburu uceng kelangan deleg itu bisa terjadi, jika kita lengah, abai, dan tidak hati-hati.
Kejadian itu pernah saya alami, ketika saya getol mengejar omset untuk menaikkan penjualan. Orientasi saya, dengan menjual produk sebanyak-banyaknya berarti keuntungan bakal berlipat. Kenyataannya saya lengah dan salah perhitungan. Banyak pelanggan yang macet dan gagal bayar.
Pengalaman pahit itu yang membuat saya belajar untuk lebih berhati-hati terhadap pelanggan. Jadi benar kata pepatah, bahwa pengalaman adalah guru terbaik agar tidak diulang dan kita tercambuk untuk semakin maju.
Ketimbang untung besar tapi mengawang-awang pada pelanggan, lebih baik untung kecil tapi pasti, dan di depan mata. Perputaran uang juga semakin kencang.
Kebiasaan berhadapan langsung dengan pelanggan membuat saya semakin jeli membaca gerah tubuh pelanggan. Mengamati gerak gerik dan kedalaman jiwa pelanggan lewat sorot mata. Pengalaman itu membuat kita untuk waspada dan mawas diri. Mengasah insting agar kita tidak asal memberi utangan.
Mburu uceng kelangan deleg itu sejatinya sifat orang yang rakus dan serakah.
Uceng itu ikan kecil di sungai. Ketika kita memburu hal-hal yang kecil, sering kali kita abai sehingga kehilangan barang yang besar, yakni hati nurani. Coba lihat menjamurnya toko swalayan di kampung-kampung. Mereka sekadar memburu untung hingga mematikan warung kecil yang sekadar untuk menyambung hidup keluarga. Begitu pula pabrik yang memasarkan produknya dari pintu ke pintu rumah, sehingga berebut rejeki dengan agen.
Persaingan itu memang kejam, tapi ngono yo ngono nanging ora ngono. Intinya, jangan gegara ingin meraup keuntungan yang besar kita kehilangan hati nurani, nama baik, atau mematikan usaha yang lain.
Orang berjiwa serakah itu tidak pernah memikirkan orang lain. Orientasi hidupnya hanya untuk kepentingan dan keuntungan sendiri. Tidak miliki empati, bela rasa, dan senang menari di atas penderitaan orang lain.
Untuk pembenahan jalur distribusi itu dibutuhkan tata kelola sistem perdagangan yang jelas dan kesadaran si empunya bisnis, sehingga tercipta sinergi yang saling menguntungkan di berbagai sektor.
Bagi saya sendiri, berbisnis itu harus saling menguntungkan dan mempercayai. Jika pelanggan bermaksud ingin berjualan juga kita bantu barangnya. Bahkan saya tidak pelit untuk berbagi trik-trik bisnis. Dengan karyawan, saya juga memotivasi agar kelak mereka mampu mandiri di atas kaki sendiri. Tidak selamanya untuk menjadi karyawan.
Tidak takut dikhianati dan disaingi?
Ikhlas itu tuntas. Rejeki dari Allah tak pernah salah. (MR)
…
Mas Redjo
Tulisan ini pernah ditayangkan di seide.id dengan beberapa pembaruan.

