“Jalan kemuliaan Tuhan yang dirindukan adalah yang ajeg mawas diri.”
…
| Red-Joss.com | Mawas diri atau mengenal diri sendiri itu adalah bagian dari upaya mengolah keheningan batin demi kebaikan laku atau hidup ini .
Menjaga irama hidup yang tetap, tetap ajeg dan jejeg, yang permanèn. Natural, bukan dibuat-buat. Otèntik bukan kosmètik, sebagai jala kemuliaan-Nya.
Inspirasi lima watak: “rila, nrima, temen, sabar dan berbudi luhur” itu harus ditopang sikap ‘aja dumeh lan aji mumpung’. Apa itu dan apa maknanya dalam rangka mawas diri?
Falsafah itu merupakan gambaran manusia yang sadar diri sesudah mawas diri dalam kebatinan Jawi. Kiranya dalam semua agama dan kepercayaan, hal serupa juga diajarkan. Misalnya dalam “8 Sabda Bahagia.”
Sikap ‘aja dumeh lan aja aji mumpung’ itu cerminan sikap mawas diri yang tidak mudah dihayati. Biasanya, watak ‘aja dumeh lan aja aji mumpung’ tampak dalam pitutur luhur: “aja dumeh pinter, kuasa lan sugih. Aja dumeh gagah prakosa.” Itu sikap mentang-mentang, sewenang-wenang. Inilah yang biasanya jadi nurani untuk tidak terjebak sikap rakus dan serakah tamak mengejar harga diri, materi, apalagi dengan hati yang rakus.
Saat orang mampu bersikap ‘aja dumeh lan ora aji mumpung’, maka ia juga akan memiliki rasa ‘tepa selira marang sapada-pada’. Artinya: akan lebih memiliki kepekaan dan belarasa pada sesama. Maka tidak akan bersikap sewenang-wenang.
Itulah pentingnya bersikap mawas diri agar tidak jatuh dan terjerembab dalam kenistaan diri. Selalu mawas diri jadi perilaku luhur yang membuat hidup kita diberkati Tuhan, entah dengan cara apa pun kita menyebut dan menyembah-Nya.
Salam sehat berlimpah berkat.
…
Jlitheng

