| Red-Joss.com | Pernah mengalami galau? Saya pernah. Kadarnya tergantung dari bobot penyebabnya.
Galau sering diartikan sebagai perasaan yang tidak menentu, gundah gulana atau anak muda ada yang menyebut rasa ingin nangis.
Semua orang pasti pernah merasakannya. Siapa saja, berapa pun usianya dan apa pun jabatannya.
Pertanyaan Yesus ditaman Getsemani, maukah berjaga bersama-Ku satu jam saja, menyiratkan, bahwa sebagai manusia Dia tidak luput dari rasa galau. Galau itu makin terasa, ketika di saat yang sangat sulit ditinggalkan seorang diri oleh *mmereka yang menyebut diri sahabat-Nya.
Perlakuan kita terhadap dia yang kita sebut saudara, teman, sahabat, yang akan menentukan siapa diri kita yang sesungguhnya.
Kita akan merasa jadi sahabat, jika sesibuk apa pun kita, mau ‘nyempetke’, atau menyempatkan diri untuk hadir, menyapa mereka yang kita sebut sahabat, sesaat saja. Saat berpapasan, di jalan atau di sosmed, ketika sedang berdoa atau bercengkerama, online atau offline.
Kita disebut sahabat sejati, jika kita hadir saat teman kita menghadapi masalah, apa pun caranya, seperti pengalaman Getsemani.
Kita akan merasa jadi sahabat sejati, jika sesibuk apa pun mau ‘ngaruhke’, menyapa, mencari sahabat yang lama tak bersapa.
“Maukah bersama-Ku, tidak satu jam, semenit saja?”
Salam sehat dan tetap berhasrat berbagi cahaya.
…
Jlitheng

