| Red-Joss.com | Saya mempunyai sahabat, entah berapa lama, tapi sudah lebih dari 15 tahun itu pasti, tidak pernah lagi berjumpa dengannya. Orangnya tinggi semampai, pintar, dan cantik.
“Mas, saya ini cacat lho.”
Saya kaget, karena dia tampil sempurna.
“Tak bisa membedakan rasa dan bau apa pun,” katanya. ‘Mati rasa’ secara fisik.
Ketika percakapan terasa berjarak. Bahkan saat sedang dekat, komunikasi terasa jauh. Seperti ada sekat yang jadi penghambat kedekatan. Untuk bisa lebih terbuka dan berbagi isi hati dan perasaan juga sulit dilakukan. Semua percakapan terasa kaku, bahkan tidak ada senyum, tawa, atau humor yang mewarnainya. Semua jadi hambar. Mati rasa! Secara psikologis, dikenal dengan mati rasa emosional (Emotional Numbness), yakni ketika seseorang tidak dapat merasakan, mengidentifikasi, dan mengekspresikan emosi sendiri, sehingga timbul rasa hampa.
Ada juga mati rasa rohani?
Matius dalam 13:13-15a menegaskan lagi mati rasa rohani bangsa Israel, yang tertulis dalam Yesaya: “Jika perasaan hati jadi menebal akan membuat seseorang mati rasa.” Itulah sebabnya, Aku berkata-kata dalam perumpamaan kepada mereka, karena sekalipun memandang, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, tidak mengerti. Sebab hati bangsa ini telah menebal. Mereka rajin berdoa, beribadat, dan berderma, tapi relasi dengan Allah, Yahwe, tidak berubah. Gitu-gitu saja. ‘Careless’ pada sesama, ‘numbness’ pada deritanya, nggak ngaruh!
Siapa saja dapat mengalami mati rasa. Isteri ke suami dan sebaliknya, antar umat dan gembalanya, bahkan umat beriman dengan Tuhannya.
Apakah kita juga sedang mati rasa? Kita sendiri yang tahu. Ada kaca spion di hati ini. Ambillah!
(Dari kamar Mbah Uti sayup terdengar tembang “Opo aku salah, ndang muliho, nang kéné AKU ngentèni” yang dengan lembut dinyanyikan alm. Dedi Kempot.)
Salam sehat berlimpah berkat.
…
Jlitheng

