| Red-Joss.com | “Dulu, ketika bekerja gajiku rupiah. Tapi sekarang gajiku ‘yen’,” itu candaan almarhum Bapak, jika ngobrol bersama teman-temannya.
Dalam Bahasa Jawa, ‘yen’ berarti kalau. Maksudnya, kalau anak-anak ingat pada Bapak untuk berkirim uang. Sehingga Bapak serasa gajian.
Beruntung sekali, tidak lama setelah Bapak pensiun, satu persatu anaknya ‘mentas’, dan mandiri. Itulah kebanggaan Bapak, karena merasa dapat menyelesaikan tugasnya dengan baik.
“Hiduplah secara ikhlas agar kita tanpa beban,” pesan Bapak yang saya ingat dengan baik supaya saya tidak silau untuk mencari dan mengumpulkan materi yang tiada habisnya itu.
“Ora ngengkoki marang kadonyan,” artinya kita tidak boleh lekat dengan hal-hal duniawi.
Yang terpenting dan hal yang paling berharga adalah hidup ini tidak untuk hal-hal duniawi, tapi untuk Allah. Karena kita ini milik-Nya. Tujuannya agar kita merawat hidup ini dengan baik. Sehingga, jika saatnya tiba, kita kembali kepada Empu-Nya kehidupan, Allah Yang Kudus.
Jika orientasi hidup ini demi materi, maka kita tenggelam ke dalam keduniawian. Sehingga kita tidak dapat kembali kepada Allah, bahkan ketika kehidupan di dunia ini berakhir.
Menurut Bapak, orang yang lekat dengan hal keduniawian itu ibarat ‘kinjeng tanpo soca’, artinya capung yang tidak memiliki mata yang oleh kebutaannya menabrak ke sana ke mari.
Jujur, meski berpuluh tahun hidup bersama Bapak, tapi saya belum memahami maksud Bapak tentang hidup tanpa kelekatan dunia. Selama ini Bapak mengajarkan pada kami makna kesederhanaan. Bapak berusaha mencukupkan rezeki dari penghasilan yang Bapak terima untuk membesarkan anak-anaknya dan beberapa famili yang tinggal bersama kami.
Satu peristiwa penting yang kuingat adalah, ketika Bapak memecat catering pabrik yang memberikan sebagian keuntungan setiap porsi makanan untuk ribuan karyawan pabrik dan kantor.
Ketika pemilik catering datang menangis dan memohon maaf atas kelancangannya, Bapak dengan tegas berkata: “Tugas yang kuberikan kepadamu adalah memberikan makanan yang baik kepada para karyawan. Aku telah memperoleh gaji atas tugas dan pekerjaanku. Kau tidak usah repot memikirkan aku.”
Bapak marah ibarat singa yang meraung. Pemberian itu tidak hanya melukai dan permalukan Bapak, tapi, juga membahayakan jiwanya yang harus dilindungi hingga nafas terakhir.
Hidup dalam keikhlasan itu yang harus saya jaga dan perjuangkan demi keselamatan jiwa. Pesan kasih Bapak dari alam keabadian seakan menyapa dan mengingatkan saya untuk hidup jujur dan benar.
Teladan Bapak agar hidup ikhlas itu juga mengingatkan saya pada nasihat Guru Agung, bahwa “Manusia hidup tidak hanya dengan roti saja, tapi dari setiap firman yang ke luar dari mulut Allah.”
Sebuah pernyataan sikap rendah hati dan ikhlas yang dihidupi oleh Bapak sepanjang hayat.
…
Herry Wibowo

