Mat. 10: 17-22
“Orang-orang suci yang penuh iman pasti memiliki peluang atau jalan ke luar untuk hidup, tapi dalam hal pembelaan iman dan menegakkan kebenaran, mereka memilih kematian agar kebenaran itu tumbuh dan berbuah.”
Stefanus, Martir pertama yang kita rayakan pestanya hari ini memiliki hikmat yang tidak tertandingi oleh lawan bicaranya: “Tapi mereka tidak sanggup melawan hikmatnya dan Roh yang mendorong dia berbicara”(Kis. 6: 10). Namun akhir kisahnya adalah kematian: “Sedang mereka melemparinya, Stefanus berdoa, katanya: “Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku” (Kis. 7: 59).
Kematian Stefanus membenarkan yang disabdakan oleh Yesus: “Dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; tapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat” (ayat 22).
Pagi ini, Yesus meminta kepada kita bukan darah atau nyawa, melainkan hidup; kita hidup untuk memberikan kesaksian dengan berani seperti Stefanus, agar kemuliaan Tuhan bersinar menerangi kegelapan dunia yang penuh dosa ini.
Biarkan damai Natal itu bergaung di semua lapisan kehidupan manusia karena dirimu. Kau pasti bisa melakukannya!
Monsignor RD Inno Ngutra

