Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
| Red-Joss.com | Renungan ini, untuk menghormati para Ibu kita.
Mater Dolorosa adalah sebuah gelar keagungan, ketulusan, kesetiaan, bahkan keteguhan beriman Bunda Maria (Siti Maryam).
Kali ini kita akan merenung refleksikan penderitaan Bunda Maria, “Mater Dolorosa,” Bunda yang berduka.
Dari mana datangnya kekuatan, kesetiaan, dan ketulusan Bunda Maria. Karena Bunda Maria sanggup dan perkasa menahan derita menghadapi seluruh realitas panggilan hidupnya yang penuh misteri. Bahkan ketika ia mengalami dan menyaksikan sendiri penderitaan putranya, Yesus Kristus di jalan-jalan kota suci Yerusalem.
Maria adalah tokoh penyaksi abadi dan pelintas jalan-jalan pahit pedih bernama โvia Dolorosaโ, jalan kedukaan.
Bunda Maria, bersama Maria yang lain adalah simbol ketegaran para Ibu kita di negeri tercinta ini dari hari ke hari.
Mereka para saksi abadi dalam menghadapi derita putra-putrinya di jalan-jalan hidup ini. Mereka pihak yang paling memahami gerak bola mata duka anak-anaknya.
Mereka ternyata, tidak saja gratis memberikan rahimnya untuk dihuni, bahkan juga sekeping hatinya untuk terus belajar memahami gejolak pahit pedih batin sang anak.
Sesungguhnya, tapak-tapak kaki mereka itu yang paling setia beriring bersama putra putrinya di jalan penuh kekerasan hari-hari ini.
Mereka pula yang berdiri teguh di bawah kaki tiang palang salib kehidupan di bukit Golgota. Mereka juga yang mendengarkan lantang suara Sang Putra yang berseru lesu, “Bapa, sudah selesai,” dan mereka juga yang mendengarkan asa paling agung di jagad hidup ini, “Bapa, ampunilah mereka, karena tidak mengerti, apa yang mereka lakukan.”
Hanya Ibu-ibu perkasa yang mampu menampung dan memaknakan arti maha luhur dari teriakan histeris ini.
Juga, kadang kala dalam keputus-asaan anak mereka pun turut berkeluh lemah, “Bapa, mengapa Engkau meninggalkan Daku.”
Mari kita terus merenung refleksikan ketegaran hati Bunda Mater Dolorosa.
Semoga, kita dikuatkan oleh kekokohan iman Bunda Mater Dolorosa.
…
3ย Juniย 2024

