“Saat kita rendah hati dan mata iman terbuka, Allah turun – bukan hanya di atas gunung, melainkan juga ke dalam jiwa kita.”
Bapa Surgawi, dalam Injil, Putra-Mu menjelaskan alasan Ia berbicara dalam perumpamaan itu bukan untuk menyembunyikan kebenaran, melainkan untuk mengundang hati mereka yang mencari untuk melihat lebih dalam. Sebuah perumpamaan bukan teka-teki yang membingungkan, melainkan pintu yang terbuka bagi mereka yang rendah hati dan mau mendengarkan.
Iman adalah kuncinya. Pengertian adalah sahabatnya.
Kami terpesona, karena Engkau menampakkan ‘Diri’ kepada Musa dan bangsa Israel di Gunung Sinai. Guruh, kilat, awan tebal, dan suara-Mu yang mengguncang jiwa mereka. Namun yang Engkau inginkan bukanlah ketakutan, melainkan keintiman. Engkau menghendaki umat yang mau mendengar, menghormati, dan jadi milik-Mu.
Seperti Engkau turun ke atas gunung dalam api dan kemegahan, kini Engkau datang kepada kami dalam kelembutan sabda-Mu lewat perumpamaan, bisikan rahmat, dan suara Yesus Putra-Mu.
Kisah-kisah-Nya bukan hiburan, melainkan pewahyuan. Bagi yang keras hati, itu membingungkan. Tapi bagi yang percaya itu penuh kehidupan dan terang.
Tuhan, betapa sering telinga kami disibukkan dan hati kami penuh kesombongan. Kami melihat, tapi tidak mengenal kehadiran-Mu. Kami mendengar, tapi tidak menangkap suara-Mu. Kami belajar, tapi tidak mengerti. Kesombongan itu membutakan. Prasangka itu menulikan. Namun Engkau sabar. Engkau tidak pernah berhenti menabur benih.
Hari ini kami merendahkan diri di hadapan gunung kudus-Mu. Kami mohon karunia iman, bukan sekadar penglihatan, tapi penglihatan batin. Bukan sekadar pendengaran, melainkan kepekaan. Kami mohon rasa hormat yang suci seperti bangsa di Sinai, dan pujian sukacita seperti yang dinaikkan oleh Sadrakh, Mesakh, dan Abednego dalam dapur api:
“Terpujilah Engkau, ya Tuhan, Allah nenek moyang kami, yang layak dipuji dan dimuliakan selama-lamanya.
Pujilah Tuhan, hai segala ciptaan-Nya!”
Terima kasih, karena Engkau masih menganugerahkan mata yang ingin melihat dan telinga yang rindu akan kebenaran-Mu. Semoga kami mencintai setiap sabda yang ke luar dari mulut Putra-Mu, dan biarlah perumpamaan-Nya menumbuhkan iman dalam diri kami serta berbuah jadi sukacita.
Yesus, Sabda-Mu adalah api — sucikan kami.
Suara-Mu adalah guruh — bangkitkan kami.
Kebenaran-Mu adalah benih — tumbuhkan dan buatlah berbuah.
Amin.
…
HD
(Bapak Herman Dominic dari paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

