| Red-Joss.com | Tulisan ini secara khusus saya dedikasikan untuk para Imam.
Saya awali tulisan ini dengan lagu Daud (kesukaanku): “Peliharalah aku seperti biji mata, sembunyikanlah aku dalam naungan sayap-Mu, terhadap orang-orang fasik yang menggagahi aku, terhadap musuh nyawaku yang mengepung aku” (Mz 17:9).
Umat Allah itu ibarat biji mata yang dilindungi Tuhan sebagai milik kesayangan-Nya.
Dari antara umat itu ada yang khusus dipilih Tuhan untuk menjalankan tugas tertentu, namanya Imam, Romo, atau Pastor.
Kedekatan relasi antara Imam dengan umatnya, saya ibaratkan hubungan cantik antara mata dan tangan. Jika mata kotor maka tangan akan dengan seketika mengusap dan membersihkan. Jika tangan terluka, maka mata akan menangis. Relasi ini sifatnya lebih dari relasi fungsional semata, tapi ‘integrated’, tak bisa dipisah satu sama lain.
Dengan sakramen imamat, seorang Imam secara khas dan khusus ambil bagian dalam tiga tugas Yesus yakni:
(1) sebagai Imam – menguduskan;
(2) sebagai Nabi – mengajar dan
(3) sebagai Raja – memimpin.
Tugas menguduskan umat dilaksanakan dengan cara persembahkan kurban (Ekaristi) kepada Allah (bdk. Im. 1-7) dan memberkati umat atas nama Allah (bdk. Bil 6: 22).
Tritugas sempurna dari Yesus itu (menguduskan, mengajar dan memimpin) jelas tidak mudah, sebab terwadahi dalam bejana kemanusiaan yang tak sempurna, rapuh, dan melelahkan.
Peran seorang Imam amat menentukan bagi umat. Seorang Imam yang oleh Tuhan diberi tugas luhur itu, ibarat mata bagi tubuh (umat). Bila mata itu buta, gelaplah dunianya. Maka mata itu harus dijaga, oleh dirinya sendiri dan juga oleh bagian tubuh yang lain seperti tangan.
Mata adalah satu dari indra yang punya fungsi sangat vital. Tanpa mata segala hal akan terlihat gelap. Kita tidak akan bisa melihat apa pun. Apakah itu tentang keragaman ciptaan Tuhan, indahnya warna-warni dunia, segala karya tak tertandingi buah karya-Nya akan luput dari penglihatan kita tanpa adanya sepasang mata.
Mata juga jadi salah satu objek keindahan tersendiri yang sering kita kagumi. Kita tentu pernah terpesona melihat mata yang indah milik seseorang? ‘Contact lense’ dengan warna-warna menarik pun tersedia di manapun untuk mempercantik mata. Tak hanya pada bola mata saja, tapi wanita pun suka memoles area sekitar mata dengan berbagai warna, baik pada kelopak, bulu mata, dan alis. Agar tidak silau orang pun melindungi matanya dengan kaca mata hitam. Para tukang las, harus melindungi matanya dari percikan api las dalam bekerja. Itu semua menggambarkan betapa berharga dan pentingnya mata bagi kita.
Jika manusia menganggap mata itu penting atas banyak alasan, demikian pula bagi Tuhan. Betapa indahnya, ketika Tuhan, melalui Imam-imam-Nya telah menjadi biji mata untuk Gereja. Bersama dengan Imam-imam,Tuhan senantiasa menjaga, melindungi dan mengawasi kita bagaikan menjaga biji mata-Nya sendiri. Itulah yang tertulis di dalam Ulangan 32: 10.
Sebagai biji mata Tuhan, ada tiga area yg harus selalu dilindungi oleh Imam-imam kita, yakni :
(1). Kekudusan. Sebelum tugas menguduskan umat, seorang Imam dipilih dengan sangat cermat dan dididik dengan waktu yang begitu lama. Ketika bertugas, tiap Imam memelihara diri dengan berbagai cara: doa, baca Firman, rekoleksi, retreat, study lanjut, suspensi ketika tertabrak derasnya goda. (Pilihlah teman yang lurus agar tidak terjerumus).
Poin ini saja yang saya tulis untuk kali ini. Semoga para Imam kita bahagia, bukan karena bisa apa, punya apa dan siapa, tetapi, karena dicintai Tuhan bagai biji mata-Nya dan menjadi mata untuk umatnya.
Salam sehat dan tetap satu dalam keekaan Tubuh Kristus.
…
Jlitheng

