Cerita Pendek Olh Mas Redjo
Red-Joss.com – Untuk yang kesekian kali gadis itu, IS menolak kuantar pulang. Padahal saya ingin mengenalnya lebih dekat.
Untuk yang kesekian kali pula saya jadi penasaran. Saya makin jengkel dengan diri sendiri. Ternyata, saya mulai tertarik pada IS.
Dulu, sewaktu saya membawa mobil untuk kuliah, IS seperti menjaga jarak, bahkan bersikap tak acuh padaku.
Didera rasa tertarik dan penasaran, saya lalu memilih untuk ganti naik motor. Saya berharap IS mau saya bonceng, dan itu tentu asyiek. Tapi usaha itu juga mental, karena IS kokoh tidak mau diantar.
“Terima kasih, saya mau mampir ke rumah teman, toko buku …,” kilah IS selalu mempunyai alasan menolak.
Jujur, IS berbeda, jika dibandingkan dengan teman-temannya. Pribadi IS yang sederhana dan rendah hati itulah kelebihannya. Dan wajah IS yang cantik alami tanpa riasan itu membuat saya makin kesengsem.
Tidak kurang akal, saya juga pernah membuntuti metro mini yang dinaiki IS. Lalu IS menyambung naik bemo, dan saya kehilangan jejak.
Lewat teman-teman dekat IS, saya mencoba mengorek informasi. Tapi saya tidak memperoleh hasil yang diharapkan. IS bagai sebuah misteri yang layak untuk diungkap.
Siang itu, ketika dosen mata kuliah Sosiologi Politik tidak masuk, saya melihat IS ke luar sendirian dari halaman kampus. Kesempatan itu segera saya gunakan dengan baik untuk mengejarnya.
“Bro, sori saya tidak jadi ke rumah Ben, nih pakai saja motorku,” kata saya pada AK sambil menyerahkan stnk dan kunci kontak.
AK bengong. Dan saya segera meninggalkannya pergi.
“Boleh saya menemanimu,” kata saya sambil menjejeri IS. IS tampak kaget melihat kedatangan saya, dan ia tersenyum manis.
“Motormu dikemanakan?”
“Saya sewain harian, lalu sewanya untuk ngantar kau,” jawab saya sekenanya.
IS tertawa renyah.
“Kalau saya tidak langsung pulang?”
“Saya mau menemanimu. Kalau perlu saya juga tidak pulang ke rumah,” gertak saya tidak mau kalah.
IS menatap saya penuh makna.
Kenekatan dan usaha saya yang gigih itu akhirnya berbuah manis. IS tidak menolak untuk ditemani pulang.
Ketika tiba di depan rumah kuno yang mempunyai halaman luas itu, IS berhenti, dan memandang saya.
“Ayo, masuk,” ajak IS ramah sambil menyentuh lenganku.
“Ini rumahmu?”
“Bukan, orangtua saya diberi pinjam,” jawab IS renyah.
Saya termangu, mengamatinya. Lagi-lagi IS tersenyum manis.
Bagai kerbau yang dicucuk hidungnya, saya menurut saja, ketika IS menarik lengan saya.
“Bu, ini teman saya, MR,” IS mengenalkan saya pada wanita baya yang cantik dan anggun itu.
Saya menyalami Ibu IS dengan takzim.
“Anggap seperti di rumah sendiri, ya, Nak,” katanya lembut, sebelum meninggalkan kami.
Saya merasa makin kecil melihat keberadaan keluarga IS. Tapi di bening mata IS, saya melihat sejuta makna.
…
Mas Redjo
Tulisan ini pernah ditayangkan di seide.id dengan beberapa pembaruan.

