Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Mata tidak hanya untuk melihat, tapi juga agar dapat mengerti.”
(Didaktika Hidup Sadar)
Tipe Belajar Auditori-Visual
Suatu proses belajar yang paling ‘ideal dan sempurna’ ialah dengan menyertakan seluruh indra di dalam tubuh manusia. Setidaknya, gunakan mata, telinga, dan mulut. Maka, di dalam dunia edukasi kita mengenal ada tipe belajar ‘auditori-visual’.
Apa itu tipe belajar ‘auditori-visual?’ Ialah suatu tipe belajar yang menggabungkan indra pendengaran dan penglihatan untuk menyerap informasi secara efektif, karena pembelajar tipe ini dapat memahami materi lebih baik melalui kombinasi antara suara dan gambar.
Lewat aspek pengalaman telah terbukti, bahwa kesuksesan seorang pembelajar akan lebih besar, justru ketika ia mampu memanfaatkan: ‘mata untuk melihat realitas hidupnya, telinga untuk mendengar, mulut untuk mengucapkan kembali, dan tangan untuk menuliskan.’ Kini lengkaplah sebuah proses belajar yang menyertakan alat indra dan organ tubuh manusia.
Mari, Cermati Kisah Unik berikut ini!
Mata telah Mendidik Kita
Di saat saya masih sebagai siswa SMA, terpampang di depan kelas kami sebuah papan yang tersusun rapi dengan ‘nama dan letak tulang-tulang serta otot-otot’ yang membentuk tubuh seorang manusia. Diagram itu terletak di hadapan kami selama satu semester. Tapi anehnya, mengapa guru biologiku justru tidak pernah menggubris materi tentang tubuh manusia itu?
Hal yang justru kian mengherankan saya, di saat hari ujian tiba, maka diagram yang berisi susunan tulang dan otot itu, justru sudah raib dari hadapan kami.
Hal yang lebih mengecewakan kami, ternyata soal ujian biologi hanya terdiri dari satu pertanyaan, “Berilah nama dan tata letak dari setiap tulang besar serta otot di dalam tubuh seorang manusia!”
Di saat itu, maka serentak kami berkeberatan kepada guru kami. “Pak, kami tidak pernah belajar tentang materi itu!”
“Itu bukan alasan yang tepat. Bukankah materi itu, justru setiap hari, selama satu semester, telah terpampang gamblang di depan matamu,” sahut beliau.
Di saat berakhirnya ujian, dan setelah kertas ujian kami dikumpulkan, maka beliau mengoyakkan semua kertas ujian itu.
“Ingatlah selalu wahai, para muridku, bahwa proses pendidikan itu bukan sekadar lewat proses mendengar dari yang gurumu ucapkan, namun proses pendidikan yang paling utama dan pertama itu, justru lewat indra penglihatan.”
Hummm, maka buyarlah sudah semua impian semu kami para muridnya!
J. S.
dalam Readers’ Digest
(1500 Cerita Bermakna)
Mari Menumbuhkan Sikap Inisiatif dan Kreatif
Sudah jadi pengetahuan umum, bahwa ternyata betapa lemah dan lambannya sikap para siswa kita untuk berinisiatif dan berkreativitas di dalam proses belajar. Hal ini dapat dibuktikan lewat reaksi mereka dalam proses belajar di kelas yang cenderung untuk pasif dan selalu menunggu komando dari guru. Artinya jika tidak dikomando, mereka tidak akan berinisiatif untuk melakukan sesuatu.
Padahal di sisi yang lain, bukankah sikap berinisiatif dan kreatif itu, justru dapat meningkatkan ‘sikap kemandirian dan partisipasi aktif siswa.’ Hal ini justru sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan kepribadian mereka dalam hidup serta karyanya kelak.
Refleksi
Jika di saat berlangsungnya proses belajar-mengajar, dan guru ternyata tidak mampu menginspirasi para siswa, maka akan sia-sialah tujuan pendidikan kita. Dampaknya, bahwa ‘out put’ pendidikan kita hanya akan menghasilkan sosok-sosok pribadi yang kerdil dan melempem.
Maka, deskripsi yang diilustrasikan lewat pengalaman seorang siswa SMA itu akan terjadi juga di mana dan kapan saja. Dalam konteks ini, maka sangat dibutuhkan sosok-sosok kepribadian guru yang cerdas, peka, dan berwawasan.
Bukankah guru terhebat itu adalah guru yang sanggup menumbuhkan inspirasi dalam diri siswa?
Kediri, 22 Oktober 2O25

