Red-Joss.com – Maaf! Jangan berpikir sempit atau salah tafsir. Mencari istri yang pandai masak, macak, lan manak, itu tidak salah. Tapi lebih baik, jika pepatah itu ditinjau dari sisi spiritualnya.
Adalah sangat merendahkan dan melukai hati wanita, jika pepatah Jawa itu dimaknai secara sempit dari kacamata lelaki. Istri dianggap sebagai konco wingking, artinya sebagai pelengkap rumah tangga yang kerjanya mengurusi masalah seputar dapur, melayani di tempat tidur, dan melahirkan anak.
Sekiranya kita mau membuka hati, bersikap jujur dan bijak, makna yang tersirat dalam pepatah masak, macak, lan manak itu sangat dalam.
Sebagai wanita dan sekaligus ibu rumah tangga, alangkah baik, jika Ibu itu bisa masak. Ibu memasak untuk menyediakan makan bagi keluarga.
Sejatinya peran dan tugas seorang Ibu itu berat sekali. Ketika masak itu dimaknai sebagai pengelola keluarga. Bapak adalah kepala rumah tangga dan bekerja mencari uang, Ibu menerapkannya dalam keseharian.
Dalam mengelola keluarga, Ibu juga sebagai bendahara yang dituntut untuk mengatur keuangan dengan baik agar tidak besar pasak daripada tiang, alias kedodoran dan minus.
Macak itu tidak sebatas agar Ibu pandai merias wajah untuk suami. Tapi Ibu yang pandai mengatur dekorasi rumah dan mendandani keluarga dengan hal yang baik dan positif.
Sedang manak tidak identik dengan beranak, atau melahirkan anak. Tapi Ibu yang mampu membawa perkembangan jiwa anak-anak dengan limpahan perhatian dan kasih sayang. Sehingga kerohanian anak terus bertumbuh jadi pribadi yang santun, rendah hati, dan mandiri.
Lalu, apa tugas suami atau Ayah sekadar mencari uang untuk memenuhi kebutuhan keluarga?
O, tidak! Tugas Ayah tidak sebatas kepala keluarga, tapi juga nahkoda keluarga. Ayah bertanggung jawab mengentaskan pendidikan anak-anak dan membawa keluarga menuju hidup sejahtera dan bahagia.
…
Mas Redjo
Tulisan ini pernah ditayangkan di seide.id dengan beberapa pembaruan.

