| Red-Joss.com | Ketika seorang teman jadi viral oleh bulan-bulanan khabar tak sedap, ia merasa diri dizolimi, dan jadi martir.
Saya jawab, bahwa martir tidak seperti itu.
Ditinjau dari asalnya, martir berasal dari bahasa Yunani yang artinya saksi, atau orang yang memberikan kesaksian. Tapi tidak sembarang memberi kesaksian, seperti saksi nikah atau saksi dalam pengadilan. Martir mempunyai arti terbatas, menyangkut iman dan pengorbanan untuk membelanya, sampai mengorbankan hidupnya.
Dalam paham kita, martir adalah seseorang yang berani berjuang hingga mati demi membela kepercayaannya terhadap Tuhan kita Yesus Kristus. Dalam KGK 2506, disebut bahwa: “Martirium (martir) adalah kesaksian teragung bagi kebenaran iman.” Maka dalam buku Liturgi untuk menghormati orang kudus, para martir ada dalam urutan setelah para rasul. Baru lanjut dengan para kudus lainnya, yang pada umumnya disebut pengaku iman. Mereka, pengaku iman, tidak dengan mengorbankan nyawa, sehingga mengorbankan nyawa jadi ciri khas atau stempel bagi para martir. Oleh karena itu martir tak dapat disejajarkan dengan pahlawan.
Kebetulan nama baptis saya Stephanus (Steven), martir pertama dalam pertumbuhan Gereja Perdana.
Dibicarakan di belakang, dicibir dan dirampas nama baik secara tak adil, sesuatu yang sama sekali jauh dari karakter yang digambarkan tadi. Maka ketika kualami hal seperti itu, saatku untuk berlutut dan bersujud pada Santo Stephanus: boleh merasakan tanpa darah jiwa kemartirannya. Santo pelindungku, doakanlah aku agar sanggup menjadi saksi iman di era hidupku saat ini.
Amin.
Salam sehat berlimpah berkat.
…
Jlitheng

