Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Kematian adalah garis batas terakhir dari segalanya.”
(Horatius)
Diktum: antara Kelahiran dan Kematian
“Barang siapa yang pernah dilahirkan ke atas jagad hidup ini, ia harus siap untuk menerima sebuah kenyataan paling pahit, yakni kematian,” demikian diktum yang senantiasa aktual secara filsafati.
Dengan demikian “kelahiran dan kematian itu ibaratnya dua orang saudara kembar” alias bagai ‘sekeping uang koin’ yang memiliki dua sisi yang tak dipisahkan.
Seperti yang telah dideskripsikan oleh penyair Horatius lewat diktumnya, “Mors ultima linea rerum est” (Kematian adalah garis batas terakhir dari segalanya). Artinya ‘kematian itu ibarat sekeping daun pintu yang menutupi sebuah fakta silam yang tak pernah akan diulangi dan dilewati sekali lagi. Inilah sebuah pintu pembatas kekal.
Pandangan Horatius Soal Kematian
Bagi Horatius lewat pintu atau ‘peristiwa kematian’, manusia dapat belajar tentang ketiga hal penting berikut ini!
- Kematian mengajarkan manusia agar tidak bersikap sombong. Mengapa demikian? Semua yang manusia miliki itu tidak satu pun yang akan dibawanya serta. Apakah artinya pangkat dan kekayaan? Apakah maknanya kepandaian dan ketenaran? Bukankah semua itu laksana ‘dihapus’ oleh fakta kematian? “Kita harus mati, itulah kita,” kata Horatius. Jadi, wahai manusia, berhentilah dari kesombongan!
- Kematian mengajarkan manusia agar hidup dengan bermakna. Untuk itu, hendaklah kita melakukan kebenaran, kebaikan, dengan mewujudkan kasih selama hidup. “Hiduplah agar engkau pun benar-benar hidup,” demikian Horatius.
- Kematian mendidik manusia agar hidup dengan bertanggung jawab. Terhadap siapa? Ya, terhadap diri sendiri dan sesama manusia.
Semoga lewat ketiga aspek pen- ‘didikan’ penting ini, manusia kian sadar akan makna dan arti sejati dari peristiwa kehidupan ini.
Amanat Agung dari Marcus Aurelius dan Eckart Tolle
“Bertindak, berbicara, dan berpikirlah seolah-olah kamu sedang meninggalkan kehidupan ini.” Dalam hal ini, beliau mengajak manusia agar dalam hidup yang sangat singkat ini, kita senantiasa berefleksi tentang saat kematian kita.
“When dead is denied life lose its dept” (ketika kematian itu disangkal, kehidupan ini akan kehilangan kedalamannya), demikian Eckart Tolle.
Hidup Dulu baru Mati
Sesungguhnya bahwa ‘kematian itu baru ada justru, karena adanya kehidupan.’ Bukankah keduanya itu ibarat sekeping uang koin?
Dalam konteks ini, manusia mutlak membutuhkan ‘kedalaman hidup’ agar dalam kematiannya kelak, justru akan kian bermakna. Di sinilah letaknya, bahwa peristiwa kematian itu jadi kian bermakna bagi kehidupan.
Semoga hidup yang sangat singkat ini tidak disia-siakan!
Refleksi
- “Hodie mihi, cras tibi”
(Hari ini saya, besok Anda) - “Urip iku mung mampir ngombe”
(Hidup ini hanyalah mampir untuk minum). - “Spes Salvi”
(Harapan yang menyelamatkan).
Kediri, 25 November 2025

