Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Jika kita utamakan sisi kemanusiaan, itu sudah menjadi segala-galanya.”
(Seruan Kebijaksanaan)
Fanatisme Tumbuh dari Kepicikan
Banyak orang, atau kelompok, juga partai, golongan, atau budaya, dan bahkan agama tertentu yang sangat getol dan bahkan bersikap membabibuta, telah tercebur alias terjun bebas dengan mengagung-agungkan kelompoknya sendiri. Justru lewat lorong nan sempit dan sikap kepicikan itu, maka lahirlah sikap fanatisme.
Tidak ada lagi orang lain, kelompok, partai, atau agama, yang “sehebat dan sebenar mereka.” Bahkan ada pihak yang dengan berani mengampanyekan, bahwa kelompok lain itu melulu salah dan bahkan sesat.
Filosofi Humanisme
Sungguh, bahwa aspek kemanusiaan itu telah jadi segala-galanya. Statemen ini justru mau menekankan, bahwa pentingnya menegakkan nilai-nilai kemanusiaan di dalam kehidupan ini.
Hal ini dapat bermakna, bahwa kemanusiaan dengan segala aspeknya seperti, ‘kasih sayang, empati, dan kepedulian’ adalah hal yang penting dan harus diutamakan.
Statemen ini bahkan dapat Dimaknakan, bahwa:
- Kemanusiaan itu adalah esensi dari kehidupan ini.
- Nilai-nilai luhur seperti, cinta, kasih sayang, dan empati itu harus jadi prioritas hidup.
- Kemanusiaan harus jadi dasar dari semua tindakan dan keputusan manusia.
Dari Mana Datangnya Klaim-klaim Buta itu?
“Candida pax homines trux decet ira feras,”
“Yang pantas bagi manusia adalah perdamaian, sementara yang pantas untuk binatang buas adalah kegarangan yang buas.” Demikian Ovidius menggambarkan, bahwa perdamaian adalah watak yang sepantasnya dimiliki oleh seorang manusia.
Bukankah lahirnya api peperangan dan terorisme di muka bumi ini adalah ungkapan dari sikap mengklaim, bahwa semua yang lain itu adalah salah dan palsu, maka harus dimusnahkan?
Dalam konteks tindakan yang sebrutal ini, maka dapat disimpulkan, bahwa asal dan sarang dari sikap kegarangan ini adalah sifat ‘kepicikan semata’. Dari sikap kepicikan itu lahirlah tindakan yang menghakimi dan menindas pihak-pihak lain.
Kini sadarkah kita, bahwa tujuan pendidikan yang baik dan benar adalah bentuk pendidikan yang mengutamakan pembangunan aspek kemanusiaan. Model pendidikan yang bersifat ‘homo humanis’ memanusiawikan sang manusia, artinya model pendidikan yang berorientasi untuk memuliakan manusia.
Refleksi
- Maka, semua doktrin dan pengajaran yang anti kemanusiaan adalah tindakan yang pincang serta tidak manusiawi.
- “Caritas est mater, radix, et forma omnium virtutum.” Kasih adalah Ibu, akar, dan bentuk dari semua keutamaan.
Marilah kita jadi seorang manusia!
Kediri, 26 Desember 2025

