“Apakah Manusia Bahagia ataukah Sengsara?
Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Buatlah sendiri hari-hari indahmu, dan jangan pernah mengharapkan hari-hari indah dari siapa pun.”
(Kahlil Gibran)
…
Hidup itu Apa dan Bagaimana?
Jika hidup ini benar hanya seadegan sandiwara, maka hendaknya kita perlu bersungguh-sungguh untuk memahami arti dari peryataan ini!
Jika hidup ini bagaikan gerak-gerik roda-roda pedati, maka hendaklah kita perlu sungguh-sungguh untuk memahami makna sejatinya!
Jika hidup ini hanya sekadar mengaso untuk menghiruf harumnya aroma sedap secangkir kopi, maka hendaklah kita sadar dan tahu, ke mana arah serta akhir sejatinya dari ziarah hidup ini!
Apakah kita sungguh ingin bahagia di dalam ziarah hidup ini? Hendaknya jangan tinggalkan adagium tua ini!
Tiga Pertanyaan Abadi
- “Manusia, siapakah engkau?”
- “Manusia, dari manakah engkau?”
- “Manusia, hendak ke manakah engkau?”
Konon, secara filosofis, bahwa manusia itu adalah makhluk yang dipentalkan dari langit tanpa sekehendak hatinya. Akhirnya, ia terlunta tertatih di jagad hidup ini. Ia sungguh sudah tak tahu, apa tujuan hidupnya di bumi ini. Ia akhirnya menderita dan merasa terbuang serta terhina.
Filsuf agung asal Prancis, Gabriel Marsel menyebutnya, “Homo Viator Mundi”โฆ Sang pengebara di bumi.
Untuk Apa Manusia Hidup di Bumi?
Riil, bahwa kita selaku ciptaan Tuhan bersama hewan dan tumbuhan telah ada, hadir, bergerak, dan bahkan sedang berziarah di bumi ini.
Dari detik ke tahun dan dari tahun ke abad dan seterusnya adalah sebuah fakta, bahwa hidup ini ibarat bersandiwara. Kita mementaskan adegan hidup kita, apa saja, apa adanya, dan sesuai dengan realitasnya.
Di atas bumi ini: ada tuan dan nyonya, atasan dan bawahan, yang kaya dan dina papa, cinta dan benci, kasih dan khianat, dan ada pula keuntungan serta kemalangan.
Yang makmur dapat bertukar jadi bersengsara. Yang cerdas dapat saja dipermalukan si goblok. Bahkan nyonya besar dapat bertukar jadi pengemis jalanan. Semua itu sudah terjadi di atas jagad hidup ini.
Lalu yang sungguh miris lagi, karena sejatinya hidup ini hanya sekadar numpang ‘ngombe’ untuk menghiruf aroma secangkir kopi.
Arah serta Tujuan Tulisan ini
Lewat tulisan reflektif filosofis ini, kita diajak untuk mengoreksi, bahkan berani untuk merenungi nasib diri sendiri di jagad hidup ini.
Ke Mana Tujuan Akhir Manusia?
Pada akhirnya, kita sendiri yang akan menentukan nasib hidup ini. Kita pula yang menentukan, apakah bahagia ataukah menderita.
Konklusi
Pada akhirnya, yang utama dan pertama sebagai bagian yang terpenting adalah, bahwa kita perlu tahu dengan pasti, tujuan sejati dari seluruh realitas hidupnya ini!
Ingat amanat abadi ini!
“Akulah Jalan, Kebenaran, dan Hidup!”
-“Ego sum Via, Veritas, et Vita.”_
(Yesus Kristus)
…
Kediri,ย 6ย Oktoberย 2024

