Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Hanya lewat Sekeping Hati yang Jernih, maka Manusia akan Memandang sesuatu dengan Jernih pula.”
(Didaktika Hidup Sejati)
Segala Sesuatu pun akan Dikritik
Sungguh benar, kata-kata para arifin, bahwa ‘manusia itu perlu memiliki sikap tahan banting’ agar ia tidak mudah patah arang oleh berbagai gosip dan terpaan badai kritikan yang datang bertubi-tubi menerpa dirinya!
“Ikan Segar Dijual di Sini” demikian seuntai tulisan propaganda pada sepotong papan milik seorang penjual ikan.
Tak lama berselang, datanglah seorang warga dan bertanya, “Mengapa Anda menulis kata ‘segar’ pada papan jualanmu. Apakah Anda tidak ingin menjual jenis ikan yang lain juga?”
Maka, segera setelah omelan itu, dihapusnya kata ‘seger.’ Sehingga kalimat itu jadi, “Ikan Dijual di Sini.”
Tapi, setelah itu datang lagi kritikan, “Mengapa, Anda menulis kata ‘di Sini?’ Bukanlah itu sudah jelas?”
Maka, si penjual ikan itu segera menghapus kata itu, sehingga kalimat itu kini jadi, “Ikan Dijual.”
Muncul lagi pengeritik berikut, yang mempertanyakan, “Mengapa Anda menggunakan kata Dijual?” “Mengapa Anda meletakkan ikan-ikan itu di sini, jika tidak untuk dijual?”
Kini yang tersisa, hanya kata “Ikan.” Pikirnya, pasti tidak seorang pun yang akan mengeritiknya lagi.
Ternyata masih juga ada kritikan, begini omelannya, “Saya tidak melihat apa gunanya pemasangan papan yang hanya bertuliskan kata ‘Ikan.’ Padahal, dari jarak jauh saja, Anda sendiri sudah mencium bau busuknya, bukan?”
Itulah sebabnya, “Mengapa pasar ikan di dunia ini biasanya tidak mempunyai papan nama?”
Sebuah Sindiran
(1500 Cerita Bermakna)
Errare Humanum est
Orang-orang yang berbahasa Latin berpendapat, bahwa ‘sungguh tidak ada manusia di bumi ini yang sungguh sempurna’ (Errare Humanum est).
Manusia itu identik dengan makhluk yang doyan mengeritik. Bukankah, apa saja yang tampak oleh mata, otak, dan hatinya itu akan selalu diomeli dan bahkan dikritiknya habis-habisan.
Apa itu Mengeritik?
Mengeritik adalah sebuah cara manusia untuk menumbuhkan kesadarannya akan adanya sebuah masalah yang perlu segera dicarikan solusinya. Di sisi lain, hal itu justru mau menunjukkan, bahwa memang manusia itu adalah makhluk yang tidak sempurna.
Bukanlah lewat proses mengetitik itu, sesungguhnya manusia mempertanyakan dan menilai segala sesuatu dengan kritis dan tidak sekadar untuk mencari kesalahan?
Ya, sesungguhnya, mengapa demikian, karena itulah sifat dasar atau insting sang manusia yang selalu ingin memahami, mencari kebenaran, dan demi meningkatkan kualitas kekritisan di dalam dirinya? Berdasarkan pemahaman akan fenomena itu, maka nyata pula, bahwa makhluk manusia itu tidak pernah akan gampang untuk menerima segala sesuatu dengan tanpa mengkritisinya.
Refleksi
- Di balik fenomena nyeleneh ini, kepada makhluk manusia diajarkan, agar perlu berhati-hati, cermat, cerdas, dan berpikir kritis sebelum ia mau mengekspresikan jati dirinya.
- Di balik itu, kepada makhluk manusia pun diuji, apakah ia seorang yang angkuh ataukah sosok pribadi yang jujur serta rendah hati?
- Sikap berani untuk menerima dan mengakui kesalahan atau kekeliruan, adalah juga sebagai sebuah nilai luhur.
- Sikap tidak mudah goyah dan tidak gampang patah arang pun adalah sebuah nilai luhur yang patut dipertahankan, jika ia sudah sungguh yakin, bahwa hal/apa yang diekspresiakannya itu memang sudah sesuai, benar, akurat, dan final berdasarkan standar suatu penilaian.
“Si Enim Fallor, Sum”
“Jadi, jika aku keliru maka aku pun ada”
(Santo Agustinus)
“Cogito, Ergo Sum”
“Aku berpikir, maka aku ada”
(Renatus Descartes)
Kediri, 7 Maret 2026

