“Makin mudah melihat keburukan dan kejelekan orang lain, ternyata kita ini kian buruk, jika dibandingkan dengan orang itu!”
Realitas itu tidak harus disangkal, tapi lebih bijak diakui dengan jujur dan dari kedalaman hati. Karena pribadi yang baik hati itu tidak mau berprasangka buruk dan jelek, serta menghakimi orang lain.
Ketika kita senang mencari-cari dan mudah menemukan kesalahan orang lain, sejatinya kita sedang diinjak-injak oleh ego nan sombong. Karena kita tidak melihat selumbar balok di pelupuk mata sendiri.
Ketika dengan mudah menemukan kesalahan orang lain berarti kita sedang bercermin wajah sendiri, sekaligus mengadili diri sendiri!
Dalam Matius 7: 2, kita diingatkan, bahwa “standar kekerasan atau belas kasihan yang digunakan untuk menilai orang lain itu akan diterapkan Allah pada diri kita sendiri.”
Disadari dan diakui, atau tidak, ketika mudah komplain, nyinyiran, mengeluhkan keburukan, dan kejelekan orang lain, sejatinya hidup kita disesaki oleh iri dengki, benci, dan seabreg hal negatif, sehingga kita merasa tersiksa, menderita, dan jauh dari bahagia!
Berbeda hasilnya, jika orientasi kita diarahkan dan fokus untuk berpikir hal-hal positif dan berprasangka baik pada orang lain. Sehingga hal-hal baik dan belas kasih Allah dianugerahkan kepada kita.
Selalu melihat sisi baik dari orang lain, karena hidup ini berhikmat agar kita hidup tentram, damai, dan bahagia.
Sejatinya, hidup ini anugerah Allah yang harus disyukuri agar kita jadi saluran berkat-Nya!
Mas Redjo

