Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
…
“Maksud hati memeluk
gunung, tapi apa daya
tangan tak sampai.”
(Peribahasa Bangsa)
Hiduplah ibarat Seikat Sapu
Kebersamaan itu ternyata sangat penting dan dibutuhkan di dalam kehidupan, baik di dalam keluarga dan masyarakat.
Kita tentu sudah paham makna esensial dari filosofi kokohnya “seikat sapu,” bukan?
Seikat sapu itu ternyata sangat berfungsi di dalam kehidupan kita, mengapa? Ia sangat bermanfaat sebagai sarana pembersih lingkungan hidup kita.
Tapi tahukah kita? bahwa seikat sapu itu justru terdiri dari sejumlah besar batang lidi yang diikatsatukan? Sadar pulakah kita, bahwa sejatinya, sebatang lidi, justru tidak bernanfaat, karena ia tidak mampu membersihkan lingkungan hidup kita?
Lupa Satu Hal
Di suatu hari libur sekolah, tampak seorang anak sangat asyik sedang membenahi kerapian kamarnya. Namun dia sangat kewalahan saat hendak menggeser lemari pakaiannya.
Dia telah berusaha, namun ternyata lemari itu sungguh berat digeser seorang diri. Di jidatnya tampak keringat bercucuran. Juga dia pun akhirnya menyerah.
Ternyata, Ayahnya memperhatikan hal itu dari kejauhan. Ia mendekati anaknya, lalu bertanya, “Kamu tidak mampu memindahkan lemari ini, ya?”
“Benar Ayah. Lemari itu terlalu berat untukku.”
“Apakah kamu sudah mengerahkan segala kemampuan, tenaga, dan pikiranmu?”
“Sudah Ayah, tetapi lemari ini hanya bisa bergeser sedikit.”
Ayahnya tersenyum dan berkata, “Tapi kamu belum mengeluarkan seluruh kemampuanmu, Nak.”
Mendengar ucapan Ayahnya, ia mengernyitkan kening.
“Satu hal yang belum kamu lakukan, ialah kamu belum meminta bantuan Ayah.”
Kini wajah anak itu tampak riang, meski sedikit malu.
“Ayo, sekarang Ayah membantumu. Kita bersama menggeser lemari ini.”
(Inspirasi dari KIMSM)
Segelas Susu
Antara Inisiatif dan Tantangan
Di dalam realitas hidup ini, sebetulnya banyak penginisiator kreatif yang akhirnya diam-diam mulai mengurungkan niatnya, karena ternyata mereka tidak mampu mewujudnyatakan keinginan hatinya itu.
Mengapa? Mereka ternyata tidak sanggup melakukan sendiri. Mereka lupa menyertakan orang-orang lain untuk mewujudkan niatnya itu.
Bersama Menggeser Lemari Hidup
Jika kehidupan ini dapat diibaratkan ‘sebagai seorang yang sedang berupaya menggeser sebuah lemari,’ maka misterinya adalah dibutuhkan suatu kebersamaan dan peran serta dari semua pihak.
Sebagai sebuah bangsa yang berbudaya, bukankah kita memiliki filosofi “bergotongroyong?” Aspek itu yang sering kali ditinggalkan yang berdampak kita sering dicap sebagai bangsa yang selalu gagal. Bangsa yang tidak mampu bergegas ke depan, namun justru kian asyik bercenkerama di dalam sebuah masa lalu.
Mengapa? Kita justru sering melupakan sebuah misteri sebagai kekuatan yang paling dasyat ialah suatu kebersamaan.
Hanya di dalam kebersamaan itu, maka kita sanggup menggeser beratnya lemari hidup kita.
…
Kediri, 17 Februari 2025

